Moodys Turunkan Outlook Kredit Raksasa Korporasi dan BUMN Indonesia Jadi Negatif

- Jumat, 06 Februari 2026 | 18:05 WIB
Moodys Turunkan Outlook Kredit Raksasa Korporasi dan BUMN Indonesia Jadi Negatif

Berita ini cukup mengguncang: Moody's Ratings baru saja mengubah pandangan mereka terhadap sejumlah raksasa korporasi Indonesia. Outlooknya dipotong jadi negatif. Aksi ini, tentu saja, tak lepas dari keputusan mereka pekan lalu yang juga menurunkan outlook kredit Pemerintah Indonesia dari "stabil" menjadi "negatif", meski peringkat utangnya masih bertahan di Baa2.

Nah, efeknya langsung merembet ke banyak sektor. Untuk korporasi non-keuangan, setidaknya tujuh perusahaan besar yang kena imbas. Daftarnya mencakup nama-nama besar seperti Telkom Indonesia dan anak perusahaannya Telkomsel, lalu Pertamina beserta Pertamina Hulu, MIND ID, Indofood CBP Sukses Makmur, dan United Tractors. Mereka semua dapat revisi outlook negatif dari Moody's.

Tak cuma itu. Lembaga pembiayaan dan BUMN infrastruktur juga kecipratan. Astra Sedaya Finance, Federal International Finance, LPEI, dan Sarana Multi Infrastruktur (SMI) outlooknya berubah jadi negatif. Perusahaan listrik negara, PLN, juga dapat perlakuan serupa. Jadi, jangkauannya luas sekali.

Di sisi lain, sektor perbankan pun tak luput. Lima bank pelat merah dan swasta terbesar ikut dapat "stempel" negatif. Menurut laporan Reuters, bank-bank itu adalah Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA, dan Bank Tabungan Negara. Meski begitu, peringkat kredit masing-masing bank itu sendiri belum diturunkan. Ini murni soal perubahan pandangan ke depan.

Lantas, apa pemicu utamanya? Moody's menyoroti kekhawatiran yang meningkat soal prediktabilitas kebijakan pemerintah. Menurut analis mereka, pemerintah memang sedang fokus mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan lewat belanja sosial yang lebih agresif. Namun begitu, langkah ini dianggap berisiko membebani kondisi fiskal, apalagi dengan basis penerimaan pajak yang masih dianggap belum kuat.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar