Lebaran di Kota Tua: Ramai Wisatawan dan Cerita Warga yang Pilih Tak Mudik

- Selasa, 24 Maret 2026 | 04:15 WIB
Lebaran di Kota Tua: Ramai Wisatawan dan Cerita Warga yang Pilih Tak Mudik

Liburan Lebaran tahun ini, suasana Kota Tua Jakarta benar-benar berbeda. Bukan cuma ramai, tapi riuh rendah oleh belasan ribu pengunjung yang memadati setiap sudut. Di antara kerumunan itu, ada M Dhaffa, seorang pemuda 23 tahun asal Padang yang memilih untuk tidak mudik.

Alih-alih pulang kampung, Dhaffa justru mengajak ibu dan adiknya untuk datang ke Jakarta. "Ini pertama kalinya kami Lebaran di sini," ujarnya.

Ditemui di sekitar Taman Fatahillah Senin lalu, ia bercerita kalau ide ini muncul begitu saja. "Pengennya coba ngunjungin tempat-tempat umum yang ikonik. Ya, akhirnya memutuskan untuk ke Kota Tua," tuturnya.

Rupanya, keputusan untuk tetap di Ibu Kota bukan tanpa alasan. Dhaffa mengaku situasi penerbangan domestik ke Padang agak rumit tahun ini. "Kondisinya kurang memungkinkan buat pulang. Lebih fleksibel di Jakarta saja, sekalian cari suasana baru," katanya sambil tersenyum.

Baginya, yang sudah setahun merantau, momen Lebaran ini adalah kesempatan untuk merasakan pengalaman berbeda. Dan Kota Tua, menurut Dhaffa, menawarkan lebih dari sekadar bangunan tua.

"Daya tarik utamanya justru interaksinya," ucapnya. Ia merasa, ruang publik seperti ini membangkitkan kembali kehangatan sosial yang perlahan pudar. "Baru jalan beberapa menit, saya sudah ngobrol sama orang dari Surabaya, dari Kalimantan. Sapa-sapaan meski nggak kenal. Itu yang bikin suasana jadi hidup," cerita Dhaffa dengan antusias.

Di sisi lain, data dari pengelola kawasan membuktikan betapa ramainya lokasi ini. Hanya pada hari kedua Lebaran saja, pengunjungnya sudah menembus angka 12.689 orang. Catatan hingga siang hari Senin pun menunjukkan lebih dari 5.300 wisatawan, dengan mayoritas berasal dari dalam negeri.

Kalau dilihat langsung di lapangan, aktivitas pengunjung sangat beragam. Ada yang sibuk berfoto dengan manusia patung, ada yang bersepeda ontel keliling plaza, tak sedikit juga yang sekadar duduk-duduk santai menikmati rindangnya pepohonan. Nuansa tempo dulu semakin kental dengan kehadiran atraksi seperti noni-noni Belanda, mobil klasik, hingga replika senjata perang.

Bagi yang ingin lebih dari sekadar foto-foto, beberapa museum di kawasan itu juga terbuka. Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, atau Museum Bank Indonesia bisa jadi pilihan untuk menambah wawasan sambil menikmati kesejukan gedung tua.

Jadi, meski tak pulang kampung, Lebaran di kota besar seperti Jakarta ternyata bisa tetap berkesan. Seperti yang dirasakan Dhaffa dan ribuan pengunjung lainnya, terkadang suasana baru dan pertemuan dengan orang asing justru menghadirkan kehangatan yang tak terduga.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar