Dengan kinerja ini, kontribusi konsumsi rumah tangga sepanjang 2025 tumbuh stabil, mengkonfirmasi ketahanan permintaan domestik di tengah dinamika ekonomi global.
Tantangan dari Sektor Eksternal dan Proyeksi Pasar
Meski demikian, bukan berarti tidak ada tantangan. Sektor eksternal justru memberikan tekanan. Kontribusi net ekspor menurun seiring melambatnya pertumbuhan ekspor menjadi 3,3 persen. Di saat bersamaan, impor meningkat 4 persen, didorong oleh kebutuhan bahan baku dan mesin untuk investasi. Kondisi ini mempertegas bahwa percepatan pertumbuhan kuartal lalu lebih banyak ditopang oleh permintaan dalam negeri.
Tren penguatan domestik ini terlihat selaras dengan indikator lain seperti Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur dan pertumbuhan kredit perbankan yang mulai menggeliat. Memandang ke depan, momentum perbaikan ekonomi makro yang berkelanjutan ini diprediksi akan memberikan angin segar bagi pasar modal.
Laporan analisis terbaru menyebutkan, "Tren perbaikan makroekonomi yang berkelanjutan berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pergerakan IHSG, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) seperti sektor perbankan dan konsumer, seiring peluang kembalinya arus dana asing ke pasar saham domestik."
Dengan demikian, capaian pertumbuhan di akhir tahun 2025 tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi juga fondasi penting bagi optimisme memasuki tahun berikutnya, meski tetap perlu diwaspadai dengan kehati-hatian terhadap perkembangan eksternal.
Artikel Terkait
Pendapatan Paradise Indonesia Melonjak 32,9% Didorong Proyek Ikonik
Ketegangan AS-Iran Dongkrak Dolar, Pasar Waspadai Inflasi dan Suku Bunga
IEA Peringatkan Kerusakan Aset Energi di Timur Tengah Picu Krisis Global
Harga Emas Antam Turun Rp50 Ribu per Gram Pasca-Lebaran, Galeri24 dan UBS Stabil