Mendagri: Pengungsi Bencana Sumatera Hampir 100 Persen Tak Lagi di Tenda

- Senin, 23 Maret 2026 | 15:30 WIB
Mendagri: Pengungsi Bencana Sumatera Hampir 100 Persen Tak Lagi di Tenda

Di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memberikan kabar terbaru soal penanganan bencana di Sumatera. Senin lalu (23/3/2026), ia menyampaikan perkembangan yang cukup menggembirakan: hampir semua pengungsi kini tak lagi bermalam di tenda. "Pengungsi bencana Sumatera mendekati 100 persen tidak di tenda saat Lebaran," ujarnya kepada para wartawan yang menunggu.

Angkanya memang menunjukkan kemajuan signifikan. Bayangkan, dari sekitar 2,1 juta jiwa yang mengungsi di Aceh, Sumut, dan Sumbar pada Desember 2025 lalu, kini hanya tersisa sekitar 173 jiwa. Atau setara dengan 47 kepala keluarga.

"Dari 2 juta lebih pengungsi pada awal Desember, sekarang tersisa kurang lebih 173 jiwa. Ini sudah sangat jauh berkurang," tutur Tito.

Meski begitu, pekerjaan rumah belum sepenuhnya beres. Seratus tujuh puluh tiga jiwa yang masih tersisa itu semuanya berada di Aceh. Tepatnya, 77 jiwa di Kabupaten Bireun dan 96 jiwa lainnya di Aceh Tamiang.

Nah, untuk mereka yang masih bertahan di tenda, pemerintah sedang mengupayakan solusi. Salah satunya lewat pembangunan hunian sementara atau huntara oleh BNPB di wilayah Aceh Tamiang. Upaya ini tak semudah kelihatannya.

Menurut Tito, tantangannya kali ini berbeda jauh dengan bencana-bencana besar sebelumnya, seperti tsunami dulu. "Kalau tsunami dulu itu kan satu hamparan daerah pantai," jelasnya.

Sekarang, dampaknya justru lebih tersebar, terutama di pedalaman dan sepanjang daerah aliran sungai. Kondisi geografis seperti ini, jujur saja, bikin urusan logistik jadi rumit. Membangun huntara di lokasi yang sulit dijangkau jelas bukan pekerjaan mudah.

Di sisi lain, ada kabar baik. Sejumlah wilayah perkotaan, termasuk ibu kota Aceh Timur, sudah dinyatakan bersih dari pengungsi. Fokus sekarang lebih mengerucut ke daerah-daerah pedalaman yang aksesnya terbatas.

Tito juga menegaskan satu hal penting. Capaian "mendekati 100 persen" itu spesifik merujuk pada satu hal: pengungsi yang sudah keluar dari tenda. Bukan berarti seluruh proses pemulihan sudah selesai.

"Yang saya sampaikan itu spesifik, pengungsi mendekati 100 persen tidak lagi di tenda. Bukan berarti semua aspek sudah pulih," tegasnya.

Masih banyak yang harus dibenahi. Fasilitas kesehatan dan pendidikan, misalnya. Infrastruktur jalan dan normalisasi sungai juga membutuhkan waktu lebih panjang. Bahkan untuk perbaikan yang bersifat sementara sekalipun.

"Seperti yang saya sampaikan, faskes, pendidikan, masih ada yang perlu kita atensi, masih belum (pulih sepenuhnya). Ada juga sungai belum, ada beberapa jalan desa, jalan kabupaten yang cukup banyak jumlahnya juga belum," ungkap Tito.

"It's take time. Bahkan (jalan dan jembatan) yang temporer bisa fungsional, itu harus dipermanenkan nanti. Itu butuh waktu yang cukup panjang," imbuhnya.

Lalu, bagaimana gambaran keseluruhannya? Tito menyebut, jika dilihat dari jumlah daerah administratif, pemulihan pascabencana di tiga provinsi itu sudah mencapai 73 persen.

"Kalau berdasarkan jumlah daerah, saya bilang daerah tuh berdasarkan aspeknya daerah ya, kabupaten/kota. Dari 52 kabupaten/kota yang sudah normal 38. Berarti itu 73 persen daerah," pungkasnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar