Dokumen Rahasia Ungkap Kaitan Gelap Jeffrey Epstein dengan Raksasa Kripto

- Rabu, 04 Februari 2026 | 12:12 WIB
Dokumen Rahasia Ungkap Kaitan Gelap Jeffrey Epstein dengan Raksasa Kripto

Ribuan dokumen baru dari Departemen Kehakiman AS akhirnya menguak sisi lain dari Jeffrey Epstein. Kali ini, sorotan jatuh pada dunia kripto. Ternyata, jauh sebelum namanya jadi berita besar, pria yang dihukum karena kejahatan seksual itu sempat menyuntikkan modal ke Coinbase, platform perdagangan aset kripto yang kini raksasa. Investasi ini, nyaris tak pernah terdengar sebelumnya.

Menurut Bloomberg, Epstein menggelontorkan sekitar 3 juta dolar AS ke Coinbase di tahun 2014. Caranya? Melalui perusahaan bernama IGO Company LLC yang berbasis di Kepulauan Virgin AS. Detail ini muncul dari surel-surel yang baru saja dibuka untuk publik.

Perlu diingat, enam tahun sebelum transaksi itu, Epstein sudah mengaku bersalah atas dakwaan prostitusi. Ia menjalani hukuman penjara, meski banyak yang menilai hukumannya terlalu ringan.

Nah, transaksi dengan Coinbase ini rupanya melibatkan beberapa nama terkenal di jagat kripto.

Brock Pierce, miliarder kripto yang juga mantan aktor cilik, disebut sebagai perantaranya. Saat itu Pierce menjabat sebagai managing partner di Blockchain Capital, sebuah firma modal ventura. Brad Stephens, salah satu pendiri Blockchain Capital, juga ikut terlibat dalam urusan ini.

Yang menarik, Fred Ehrsam salah satu pendiri Coinbase tampaknya tahu soal keterlibatan Epstein. Dari korespondensi email yang ada, Ehrsam sempat berusaha mengatur pertemuan dengan Epstein lewat perantara Blockchain Capital. Tapi, entah pertemuan itu benar-benar terjadi atau tidak, tidak ada yang tahu pasti.

Hingga berita ini ditulis, perwakilan Coinbase memilih untuk tidak berkomentar. Begitu pula dengan Blockchain Capital, Brock Pierce, dan Fred Ehrsam. Semuanya diam.

Semua informasi ini meluncur dari tumpukan berkas Epstein yang dirilis DOJ pekan lalu. Isinya ribuan halaman, membongkar soal keuangan dan aktivitas bisnisnya meski banyak bagian yang masih disensor hitam. Rilis ini sendiri terjadi setelah Kongres mengesahkan undang-undang baru tahun lalu, didorong oleh tekanan dari para legislator dari kedua partai, korban, dan aktivis.


Halaman:

Komentar