kata Michael Hsueh, analis logam mulia Deutsche Bank. Dalam catatannya, ia melihat investor masih sangat agresif. Mereka terus memburu peluang kenaikan. Artinya, volatilitas tinggi masih akan berlanjut, bukan berarti sentimen positif runtuh total.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Keputusan CME Group menaikkan margin pada Jumat lalu jelas jadi pemantik. Perubahan itu berlaku efektif Senin kemarin, memaksa banyak trader spekulatif untuk menutup posisi mereka. Bagi sebagian pengamat, justru ini hal yang baik. Kejatuhan tajam telah membersihkan pasar dari spekulasi berlebihan dan mendinginkan suasana yang sebelumnya terlalu panas.
“Kami melihat ada arus dana keluar dari ETF dan kami menduga sejumlah hedge fund yang berani mengambil alih posisi tersebut,”
tambah Meyer.
Faktor lain yang menekan adalah dolar AS. Indeks dolar (DXY) terus menguat, mencapai level tertingginya dalam lebih dari seminggu. Otomatis, buat pembeli di luar Amerika, emas jadi terasa lebih mahal. Dan di sisi kebijakan, pasar masih mencerna pencalonan Kevin Warsh oleh Presiden Donald Trump. Warsh digadang-gadang menggantikan Jerome Powell di kursi The Fed bulan Mei nanti. Spekulasi pun berembus: kebijakan ke depan mungkin akan lebih condong ke pemotongan suku bunga.
Sementara dua bintang utama itu terpuruk, logam mulia lainnya juga ikut merana. Platinum spot melemah 3,3 persen, sementara palladium turun 1,4 persen. Pasar tampaknya masih butuh waktu untuk menemukan keseimbangan barunya setelah heboh beberapa pekan terakhir. Semuanya masih berlangsung sangat dinamis.
Artikel Terkait
Pasar Asia Bangkit dari Keterpurukan, KOSPI Melonjak hingga Picu Pembatasan Perdagangan
IHSG Coba Bangkit Usai Anjlok, Analis Proyeksi Pergerakan Sempit
Empat Saham Kembali ke Pasar, Masuk Papan Khusus Setelah Masa Suspensi
Harga Emas Antam Anjlok Drastis, Sentuh Rp 2,8 Juta per Gram