Hari ini, pasar modal ramai. Danantara, sang kekuatan baru, mulai aktif membeli saham. Gerakannya dimulai tepat di perdagangan hari ini, 2 Februari. Menurut Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara, mereka fokus pada saham-saham dengan fundamental yang kokoh. Tak cuma itu, tim mereka juga mempertimbangkan matang soal valuasi dan arus kas perusahaan-perusahaan tersebut.
Pandu menjelaskan lebih lanjut di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.
“Mungkin terakhir kami juga di Danantara sudah aktif juga di pasar hari ini. Kita melakukan aktivitas aktif membeli saham-saham yang, seperti kami bilang kemarin, punya valuasi menarik. Perusahaan yang baik dengan cash flow yang baik, fundamental dan likuiditasnya juga bagus,” ujarnya.
Namun begitu, ketika ditanya lebih detail sektor apa dan berapa dana yang dikucurkan Pandu memilih untuk tidak merinci. Jawabannya berputar pada prinsip yang sama: kualitas adalah kunci.
“Kita enggak mungkin bicara kayak kemarin ditanya yang sama. Kita aktif sebagai partisipan, membeli saham-saham yang tadi saya bilang: cash flow-nya bagus, punya profil bisnis yang bagus, valuasi baik, dan likuiditasnya juga perlu baik,” responsnya singkat.
Di sisi lain, rencana Danantara tak hanya berhenti di sana. Sebelumnya, CEO Rosan Roeslani sudah mengisyaratkan niat mereka untuk ikut memiliki Bursa Efek Indonesia pasca demutualisasi. Persentase kepemilikannya masih dalam hitungan, tapi Rosan menyebut mereka sedang mempelajari peluang ini dengan serius.
“Mengenai demutualisasi, kita tentunya akan mempelajari dulu berapa persen yang kita ingin masuk. Kita punya kriteria-kriteria saat berinvestasi. Kami lihat juga, hampir di semua bursa lain di dunia, sovereign wealth fund-nya memang ikut,” kata Rosan dalam sebuah dialog di Main Hall BEI, Jakarta Selatan.
“Range-nya bisa 15 persen, ada yang 25 persen, ada yang 30 persen, ada yang lebih dari itu ya,” tambahnya.
Bagi yang belum akrab, demutualisasi itu intinya adalah perubahan status BEI. Dari organisasi yang dimiliki oleh anggota bursa, menjadi perusahaan yang kepemilikannya bisa lebih terbuka termasuk untuk publik atau investor strategis seperti Danantara. Sebuah langkah transformatif yang kini mulai menarik minat para pemain besar.
Artikel Terkait
Harga Telur dan Cabai Merah Dorong Deflasi di Tiga Provinsi Sumatera
OJK Soroti Aksi Rebalancing Investor di Balik IHSG Anjlok 5%
Demutualisasi BEI Masih Tersandera Tunggu Peraturan Pemerintah
OJK Siap Buka Data Kepemilikan Saham di Atas 1% Usai Pertemuan dengan MSCI