Mari Pangestu Tegaskan: Ekonomi Hijau Bukan Beban, Melainkan Strategi Pertumbuhan

- Kamis, 29 Januari 2026 | 21:54 WIB
Mari Pangestu Tegaskan: Ekonomi Hijau Bukan Beban, Melainkan Strategi Pertumbuhan

Di tengah hiruk-pikuk forum ekonomi di Jakarta pekan lalu, ada satu pesan yang disampaikan dengan tegas: mengejar ekonomi hijau bukanlah beban. Bukan sekadar kewajiban untuk memenuhi janji iklim global. Justru sebaliknya.

Menurut Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan dan Kerjasama Multilateral, Mari Elka Pangestu, inilah strategi pertumbuhan yang krusial. Bahkan untuk mencapai target ambisius, seperti pertumbuhan ekonomi delapan persen sekalipun. Hal ini ia sampaikan dalam Prasasti Economic Forum 2026, yang mengusung tema "Navigating Indonesia’s Next Chapter".

"Ini bukan soal komitmen terhadap perubahan iklim semata, tetapi ini tentang pertumbuhan [ekonomi]," ujarnya.

Pendekatan green growth, tegas Mari, harus dilihat sebagai bagian tak terpisahkan dari agenda pembangunan. Ia punya alasan kuat. Aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim justru membuka pintu lebar-lebar bagi investasi baru. Menciptakan lapangan kerja. Dan yang tak kalah penting, menjaga daya saing nasional di panggung dunia.

Tanpa langkah serius itu, Indonesia berisiko tertinggal. Pertumbuhan bisa mandek di masa depan, terhantam dampak perubahan iklim yang tak tertangani.

"Kalau kita tidak melakukan itu, kita tidak akan berdaya saing," katanya.

Memang, realitasnya sudah berubah. Isu keberlanjutan kini jadi penentu utama dalam rantai pasok global. Investor dan pelaku usaha internasional makin ketat menuntut standar lingkungan, dari penggunaan energi bersih hingga pengelolaan limbah. Kalau tak memenuhi, akses ke pasar global bisa terancam menyempit.

Dari semua sektor, energi memegang peran kunci. Transisi energi, menurut Mari, bukan hal yang menakutkan. Justru ia membuka peluang investasi yang segar dan melahirkan industri-industri baru di bidang terbarukan. Di sisi lain, industri nasional harus mulai serius merencanakan pengelolaan karbon. Tujuannya, menghindari risiko kebijakan global seperti CBAM yang bisa membebani ekspor kita jika emisi masih tinggi.


Halaman:

Komentar