Lalu, apa pemicu semua kekacauan ini? Sentimen pasar jelas lagi jelek, dan salah satu pukulan berat datang dari keputusan MSCI. Lembaga itu membekukan seluruh kenaikan bobot saham Indonesia dalam indeksnya, sebuah berita yang langsung disambut negatif oleh pelaku pasar.
Mohit Mirpuri, Senior Partner SGMC Capital, punya pandangannya sendiri.
Namun begitu, Mirpuri tak sepenuhnya pesimis. Dia menegaskan, kalau kita lihat sejarah, periode ketidakpastian seperti ini justru sering jadi peluang emas bagi investor yang berpikir jangka panjang. Pasar, katanya, punya kebiasaan unik: sering mulai menguat sebelum sebuah ketidakpastian benar-benar berakhir.
Maka, di tengi hiruk-pikuk dan tekanan saat ini, mungkin justru saat yang tepat untuk mulai mencermati saham-saham berkualitas. Memilih yang punya fundamental bagus, lalu perlahan-lahan melakukan akumulasi.
Di akhir sesi yang penuh gejolak, IHSG akhirnya ditutup sedikit melemah di level 8.232, atau turun 1% dari pembukaan. Volume perdagangan tercatat mencapai Rp 973 miliar, dengan nilai transaksi yang tak main-main: Rp 66,7 triliun. Angka-angka itu menjadi saksi bisu sebuah hari yang lagi-lagi menegangkan di bursa Indonesia.
Artikel Terkait
Serangan ke Pelabuhan Fujairah Picu Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman Disrupsi Pasokan Global
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Bahan Baku, Produsen Kemasan EPAC Naikkan Harga Jual
BEI Perpanjang Penundaan Transaksi Short Selling hingga September 2026
Wall Street Menguat di Tengah Harapan Pembukaan Kembali Selat Hormuz