Pandu Sjahrir Soroti Ancaman Degradasi Pasar Modal Indonesia

- Kamis, 29 Januari 2026 | 14:30 WIB
Pandu Sjahrir Soroti Ancaman Degradasi Pasar Modal Indonesia

Di forum ekonomi yang digelar di Jakarta, Kamis lalu, Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa lembaganya telah memberikan sejumlah masukan langsung kepada MSCI. Lembaga global penyedia indeks itu, menurut Pandu, sebenarnya sudah menyampaikan dengan cukup gamblang apa yang perlu dilakukan oleh para pemangku kepentingan di Indonesia.

Kalau akhirnya Indonesia benar-benar tergeser ke status frontier market, posisinya bakal setara dengan Bangladesh, Pakistan, atau Senegal dalam klasifikasi MSCI. Pandu pun menyoroti hal ini.

"Regulator harus bisa bertindak. Saya membaca daftar frontier market itu mengingat persiapannya ke arah sana ada negara seperti Bangladesh, Pakistan, Senegal. Mungkin ini cita-cita dari regulasi, saya tidak tahu. Saya serahkan sepenuhnya kepada regulator,"

ujarnya dalam Prasasti Economic Forum 2026.

Namun begitu, fokus Danantara sebagai pelaku investasi tak berubah: tetap mengembangkan portofolio, termasuk di pasar modal. Hanya saja, kedalaman pasar dan likuiditas adalah dua hal krusial yang selalu dipertimbangkan.

"Buat kami di Danantara, fokus kami ya berinvestasi, dan tentu salah satunya di public market. Kami menginginkan pasar modal yang lebih dalam. Ini sudah kami sampaikan secara eksplisit," tegas Pandu.

Dia mengakui, strategi investasi mereka akan disesuaikan secara proporsional jika likuiditas pasar tergerus karena perubahan status Indonesia di panggung global. "Tentu kami akan berinvestasi proporsional. Apabila nanti likuiditasnya menurun, itu akan kami perhitungkan," katanya.

Di sisi lain, ancaman pergeseran status dari emerging ke frontier market ini bukan main-main. Risikonya? Bisa memicu arus keluar modal asing yang masif, sekitar USD 25 hingga 50 miliar, dari pasar keuangan dalam negeri.

"Kalau untuk perubahan ke frontier market, kurang lebih USD 25-50 miliar yang bisa keluar," imbuh Pandu, menggarisbawahi besarnya potensi capital outflow tersebut.

Kunthi Fahmar Sandy

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar