Badai MSCI Guncang IHSG, Saham Komoditas Jadi Pelindung di Tengah Panik

- Kamis, 29 Januari 2026 | 07:40 WIB
Badai MSCI Guncang IHSG, Saham Komoditas Jadi Pelindung di Tengah Panik

Risikonya? Besar sekali. Michael memperkirakan arus keluar dana bisa mencapai Rp150 triliun dalam skenario terburuk. Karena itu, ia mendorong kerja kolektif KSEI, BEI, dan OJK untuk memperbaiki struktur dan transparansi kepemilikan saham.

CGS punya hitungan berbeda, tapi tetap mengkhawatirkan. Jika MSCI memberi diskon 20%, dana pasif yang keluar bisa capai USD2 miliar. Dan jika status Indonesia turun dari Emerging Market jadi Frontier Market? Bisa-bisa dana yang kabur mendekati USD10 miliar atau sekitar Rp167 triliun.

Intinya, ketidakpastian ini akan terus membayangi hingga pengumuman MSCI di Mei nanti. Pasar berpotensi mengalami tekanan berkepanjangan.

Lalu, apa yang dilakukan MSCI sebenarnya? Pengumuman resmi mereka, yang keluar Selasa malam waktu setempat, adalah hasil dari konsultasi panjang soal penilaian free float saham Indonesia. Memang ada perbaikan data minor dari BEI, tapi mayoritas investor global masih khawatir. Masalah utamanya: transparansi struktur kepemilikan yang terbatas dan kekhawatiran atas perdagangan terkoordinasi yang bisa mengganggu harga wajar.

Maka, MSCI mengambil tindakan. Mulai sekarang, mereka terapkan perlakuan sementara. Semua kenaikan faktor kepemilikan asing (FIF) dan jumlah saham tercatat dibekukan. Tak ada penambahan saham Indonesia ke indeks investable mereka, dan tak ada promosi saham dari kelas kecil ke standar. Tujuannya jelas: membatasi gejolak dan memberi waktu bagi otoritas Indonesia untuk berbenah.

Peringatan terakhir MSCI lebih keras. Jika hingga Mei 2026 tidak ada kemajuan signifikan dalam transparansi, status pasar Indonesia akan ditinjau ulang. Bukan cuma bobot di indeks yang bisa dipotong, tapi juga berpotensi diturunkan statusnya menjadi pasar frontier. Mereka akan terus memantau dan berkomunikasi dengan OJK dan BEI.

Jadi, di tengah badai ini, pesannya jelas: investor harus ekstra selektif. Fokus pada saham dengan fundamental tangguh dan karakter defensif. Badai belum reda, dan kita harus siap menghadapi gelombang berikutnya.


Halaman:

Komentar