Sore itu, di kawasan Brawijaya yang tenang, kediaman Jusuf Kalla tampak ramai oleh kedatangan tamu. Sejak pukul empat sore, satu per satu mobil mulai berhenti di depan rumah mantan wakil presiden itu. Mereka yang datang bukan sembarang orang; ada guru besar, peneliti, dan sejumlah praktisi yang namanya tak asing di dunia pemerintahan.
Pertemuan ini, yang digelar Minggu (15/3/2026), berlangsung tertutup. Awak media yang menunggu di luar hanya bisa melihat aktivitas keluar-masuk tamu, tanpa mendapat penjelasan resmi apa pun. Menurut sejumlah saksi, diskusi di dalam ruangan terpusat pada satu isu yang pelik: defisit anggaran yang melanda banyak daerah di Indonesia, baik di tingkat kabupaten, kota, maupun provinsi.
Agendanya jelas, tapi tidak sederhana: mencari jalan keluar. Mereka berkumpul untuk membedah persoalan dan, mungkin, merumuskan solusi yang bisa dijalankan.
Daftar tamunya sendiri cukup mengesankan. Dari Universitas Indonesia hadir Prof. Irfan Ridwan Maksum dan Prof. Aditya Perdana dari FISIP. Ada pula Prof. Djohermansyah Djohan dari i-Otda, serta Prof. Ahmad Fairuz Lili Romli yang mewakili BRIN.
Tak ketinggalan, sejumlah nama lain juga terlihat hadir. Sebut saja Prof. Hanif dari UT, Prof. Trubus (Trisakti), dan Prof. Muhadam Labolo dari IPDN. Dr. Riant Nugroho (UNJ), Armand dari KPPOD, Prof. Satya Arinanto (FH UI), serta Prof. Mulyadi (BRIN) turut melengkapi daftar peserta pertemuan sore itu.
Hingga malam tiba, lampu di kediaman JK masih menyala. Diskusi tampaknya belum juga usai.
Artikel Terkait
LPSK Ajukan Tambahan Anggaran Rp262,43 Miliar untuk Perlindungan Saksi dan Korban pada 2027
Prabowo Terima Telepon Mahmoud Abbas, Bahas Dukungan Indonesia untuk Palestina
BGN Akan Ubah Skema Insentif Dapur Gizi, Tak Lagi Flat Rp6 Juta Per Hari
Polisi Selidiki Aksi Pencopetan di Jakarta Fair Kemayoran yang Viral di Medsos