Rencana besar sedang disiapkan oleh PT Bank Central Asia Tbk. Bank dengan kode BCA itu baru saja mengumumkan niatnya untuk membeli kembali sahamnya sendiri, dengan nilai yang tak main-main: hingga Rp 5 triliun. Rencana buyback ini tentu saja butuh lampu hijau dari para pemegang saham. Nah, persetujuan itu rencananya akan diminta dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang dijadwalkan pada 12 Maret 2026 mendatang.
Lalu, apa alasan di balik langkah korporasi ini? Menurut manajemen BCA, aksi buyback punya tujuan ganda. Di satu sisi, ini diharapkan bisa memberi sentuhan positif pada stabilitas pasar modal. Di sisi lain, langkah ini juga dimaksudkan untuk memperkuat kepercayaan investor terhadap masa depan perusahaan. Intinya, ini adalah sinyal kepercayaan diri dari internal bank.
Periode pelaksanaannya sendiri direncanakan cukup panjang, yakni sampai 12 bulan setelah persetujuan RUPST keluar. Tapi, bisa saja diakhiri lebih cepat jika situasi menuntut, tentu dengan tetap mengikuti aturan yang berlaku.
Penjelasan resmi datang dari Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA.
"Periode shares buyback akan dilaksanakan selama 12 bulan sejak disetujuinya rencana oleh RUPST, yang rencananya pada 12 Maret 2026. Kecuali diakhiri lebih cepat oleh Perseroan dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan yang berlaku," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (29/1).
Yang pasti, BCA menegaskan bahwa langkah strategis ini tidak akan bikin pusing soal modal. Mereka memastikan rasio modal bank akan tetap aman, jauh di atas batas minimum yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi, tidak perlu khawatir.
Tak hanya itu, perusahaan juga menilai bahwa aksi beli kembali saham ini tidak akan memberikan dampak yang signifikan atau material terhadap kinerja keuangan dan operasional mereka sehari-hari. Bisnis akan berjalan seperti biasa.
Hera F. Haryn kembali menambahkan penegasan.
"Pelaksanaan shares buyback ini tidak memiliki dampak material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha Perseroan. Dalam menjalankan operasional, BCA tetap berpegang pada prinsip Good Corporate Governance dan mematuhi semua peraturan yang berlaku," imbuhnya.
Jadi, itulah rencana BCA ke depan. Sebuah langkah yang tampaknya dirancang untuk mengirim pesan kuat ke pasar, sambil menjaga fondasi bisnisnya tetap kokoh.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020