Gelombang Pengakuan Diteror: Tren Baru atau Bisnis Kebencian?

- Minggu, 04 Januari 2026 | 11:00 WIB
Gelombang Pengakuan Diteror: Tren Baru atau Bisnis Kebencian?

Diserang Teror: Dari Aktivis Hingga Influencer

Belakangan ini, pengakuan diteror seolah jadi tren. Yang mengaku bukan cuma aktivis, tapi juga para influencer. Pemicunya? Kritik terhadap pemerintah. Lalu, apakah pelakunya adalah pemerintah sendiri?

Menteri Hukum Supratman Andi Agtas membantah. Menurutnya, pelaku teror ini harus segera ditemukan. Tujuannya jelas: agar kecurigaan dan prasangka buruk tidak terus berkembang.

Di sisi lain, Guru Gembul lewat channel YouTube-nya punya pandangan lain. Ia menyoroti apa yang disebutnya "bisnis kebencian". Menurutnya, ini nyata adanya. Rakyat diadu domba, keresahan dimanfaatkan justru untuk menghancurkan bangsa sendiri. Makanya, tak heran kalau kadang kita gerah melihat konten influencer yang mengaku diteror itu.

Gelombang pengakuan ini juga menyentuh kalangan akademisi. Pakar Hukum Tata Negara UGM, Zainal Arifin Mochtar, mengaku mendapat teror. Bedanya, modusnya lewat telepon dan unggahan di Facebook.

"Baru aja masuk telepon ini ( 62 838-1794-1429). Ngaku dari Polresta Jogjakarta, meminta segera menghadap dan membawa ktp, jika tidak akan segera melakukan penangkapan. Suaranya diberat-beratkan supaya kelihatan punya otoritas. Dalam beberapa hari ini sy dah dihubungi tindakan sejenis dah dua kali. Saya hanya ketawa dan matiin hape lalu lanjut ngetik."

"Well, siapapun tau yg kayak beginian adalah penipuan dan gak jelas. Tololnya dia bisa menelpon berkali2. Tapi bagaimana pun di negeri ini penipu macam begini terlalu diberi ruang bebas. Nyaris nda pernah ada yg dikejar dengan serius. Data kita diperjual belikan dan berbagai tindakan scam lainnya."


Halaman:

Komentar