Rosatom Tawarkan Solusi Nuklir untuk Dukung Visi 2030 Arab Saudi di Pameran Riyadh

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:00 WIB
Rosatom Tawarkan Solusi Nuklir untuk Dukung Visi 2030 Arab Saudi di Pameran Riyadh

Riyadh baru saja jadi tuan rumah pameran industri besar-besaran. INNOPROM Saudi Arabia 2026, yang digelar 8–10 Februari, ternyata lebih dari sekadar ajang dagang biasa. Acara itu menjelma jadi panggung utama bagi diplomasi teknologi Rusia di jantung Timur Tengah. Di sana, raksasa nuklir Rusia, Rosatom, dengan lantang menawarkan kerja sama untuk mendukung ambisi besar Arab Saudi: Vision 2030.

Igor Baramaltchuk, Direktur Rosatom untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, bicara blak-blakan di sela pameran. Ia bilang perusahaannya siap kasih solusi lengkap.

"Kami punya segalanya, mulai dari pembangkit nuklir skala besar, reaktor modular kecil, sampai teknologi digital untuk industri. Bahkan solusi presisi untuk kesehatan dan pendidikan," ujarnya.

Menurut Baramaltchuk, semua ini dirancang untuk menopang agenda diversifikasi ekonomi Kerajaan. Vision 2030, katanya, adalah lompatan besar menuju ekonomi berbasis inovasi. Kerja sama dengan Rusia bukan cuma soal amankan pasokan energi, tapi juga percepat transfer teknologi, bangun kapasitas riset, dan siapkan sumber daya manusia kelas dunia.

Gambaran besarnya memang cukup mencengangkan. Lebih dari 200 perusahaan Rusia membanjiri pameran ini, memenuhi ruang pamer seluas 6.000 meter persegi. Ini jelas salah satu pertemuan industri terbesar di kawasan Teluk. Partisipasi masif ini menegaskan satu hal: ekspansi diplomasi industri Moskow sedang berjalan kuat. Mereka jajaki kerja sama di segala lini, dari energi bersih, manufaktur mesin, metalurgi, hingga teknologi kota pintar dan transportasi.

Tak main-main, delegasi Rusia yang terdiri dari 10 perusahaan ekspor berbasis teknologi, medis, dan pendidikan, konon menggelar lebih dari 80 pertemuan bisnis dengan mitra Saudi. Tujuannya jelas: buka jalur ekspor baru ke pasar Timur Tengah dan Afrika Utara. Ini diplomasi industri yang benar-benar mengincar hasil konkret.

Di sisi lain, Rosatom bersama entitas strategis seperti Rostec dan Roscosmos, berusaha memosisikan diri sebagai mitra kunci. Mereka tawarkan pengembangan infrastruktur energi bersih, termasuk proyek tenaga nuklir sipil yang potensial. Tawaran ini menarik bagi Saudi yang bauran energinya masih didominasi minyak dan gas, tapi punya target net-zero emission di pertengahan abad ini.

Namun begitu, di balik gemerlap pameran dan janji kerja sama, ada dimensi lain yang lebih rumit. Banyak pengamat melihat ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa. Ada muatan geopolitik yang kuat di dalamnya.

Dr. Patrice Lumumba, MA., dosen Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, punya pandangan tajam soal ini. Ia mengakui partisipasi Rosatom mencerminkan orientasi kerja sama teknologi Rusia–Arab Saudi yang semakin strategis.

Tapi ia juga mengingatkan agar semua pihak berhati-hati.

"Implementasinya tetap butuh kalkulasi komprehensif," tegasnya. "Terutama dari sisi keselamatan nuklir, transparansi tata kelola, dan jaminan transfer teknologi yang benar-benar bisa tingkatkan kapasitas domestik Saudi."

Lumumba melihat situasinya masih abu-abu. Faktor geopolitik dan geostrategi sangat kental. Timur Tengah sendiri sedang panas dengan rivalitas strategis, ketegangan Iran-Israel, dan tarik-ulur pengaruh kekuatan besar seperti AS, Rusia, dan China. Posisi Saudi pun jadi gamang. Di satu sisi, ada komitmen keamanan tradisional dengan Washington. Di sisi lain, ada kebutuhan mendesak untuk mencari inovasi dan diversifikasi mitra.

Memang secara empiris, hubungan pertahanan Saudi dengan AS sudah lama dan erat. Tapi dalam sepuluh tahun terakhir, Riyadh terlihat aktif memperluas kemitraan dengan Rusia dan China. Ini adalah strategi hedging yang khas dalam politik luar negeri tidak mau menaruh semua telur dalam satu keranjang.

Lalu ada soal keselamatan nuklir. Proyek tenaga nuklir sipil mana pun, dari pihak manapun, wajib patuh ketat pada standar Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Transparansi dan pengawasan internasional adalah prasyarat mutlak. Tanpa itu, sulit membangun kepercayaan publik dan menjaga stabilitas kawasan yang sudah rentan.

Apalagi, kerja sama semacam ini di tengah dinamika konflik regional pasti memicu diskusi serius. Banyak yang bertanya-tanya tentang dampaknya terhadap keseimbangan kekuatan. Meski secara resmi proyeknya untuk sipil dan energi bersih, potensi implikasi strategisnya tetap jadi bahan perdebatan.

Jadi, INNOPROM Saudi Arabia 2026 ini bukan cuma pameran. Ia adalah manifestasi nyata diplomasi teknologi abad ke-21. Di sana, inovasi industri bertemu dengan strategi energi bersih, kalkulasi geopolitik, dan tuntutan transparansi global. Masa depan kolaborasi Rusia dan Arab Saudi nantinya akan sangat ditentukan oleh satu hal: apakah mereka bisa menemukan titik keseimbangan yang tepat antara kepentingan ekonomi, stabilitas keamanan regional, dan komitmen pada tata kelola internasional yang aman dan berkelanjutan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar