Riyadh baru saja jadi tuan rumah pameran industri besar-besaran. INNOPROM Saudi Arabia 2026, yang digelar 8–10 Februari, ternyata lebih dari sekadar ajang dagang biasa. Acara itu menjelma jadi panggung utama bagi diplomasi teknologi Rusia di jantung Timur Tengah. Di sana, raksasa nuklir Rusia, Rosatom, dengan lantang menawarkan kerja sama untuk mendukung ambisi besar Arab Saudi: Vision 2030.
Igor Baramaltchuk, Direktur Rosatom untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, bicara blak-blakan di sela pameran. Ia bilang perusahaannya siap kasih solusi lengkap.
"Kami punya segalanya, mulai dari pembangkit nuklir skala besar, reaktor modular kecil, sampai teknologi digital untuk industri. Bahkan solusi presisi untuk kesehatan dan pendidikan," ujarnya.
Menurut Baramaltchuk, semua ini dirancang untuk menopang agenda diversifikasi ekonomi Kerajaan. Vision 2030, katanya, adalah lompatan besar menuju ekonomi berbasis inovasi. Kerja sama dengan Rusia bukan cuma soal amankan pasokan energi, tapi juga percepat transfer teknologi, bangun kapasitas riset, dan siapkan sumber daya manusia kelas dunia.
Gambaran besarnya memang cukup mencengangkan. Lebih dari 200 perusahaan Rusia membanjiri pameran ini, memenuhi ruang pamer seluas 6.000 meter persegi. Ini jelas salah satu pertemuan industri terbesar di kawasan Teluk. Partisipasi masif ini menegaskan satu hal: ekspansi diplomasi industri Moskow sedang berjalan kuat. Mereka jajaki kerja sama di segala lini, dari energi bersih, manufaktur mesin, metalurgi, hingga teknologi kota pintar dan transportasi.
Tak main-main, delegasi Rusia yang terdiri dari 10 perusahaan ekspor berbasis teknologi, medis, dan pendidikan, konon menggelar lebih dari 80 pertemuan bisnis dengan mitra Saudi. Tujuannya jelas: buka jalur ekspor baru ke pasar Timur Tengah dan Afrika Utara. Ini diplomasi industri yang benar-benar mengincar hasil konkret.
Di sisi lain, Rosatom bersama entitas strategis seperti Rostec dan Roscosmos, berusaha memosisikan diri sebagai mitra kunci. Mereka tawarkan pengembangan infrastruktur energi bersih, termasuk proyek tenaga nuklir sipil yang potensial. Tawaran ini menarik bagi Saudi yang bauran energinya masih didominasi minyak dan gas, tapi punya target net-zero emission di pertengahan abad ini.
Namun begitu, di balik gemerlap pameran dan janji kerja sama, ada dimensi lain yang lebih rumit. Banyak pengamat melihat ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa. Ada muatan geopolitik yang kuat di dalamnya.
Artikel Terkait
Ibu dan Anak Diduga Mencebur ke Sungai Tonjung, Pencarian Berlanjut
Rieke Diah Pitaloka Dorong Perlindungan Pembela HAM Masuk RUU Saksi dan Korban
Polisi Tangkap Pelaku Penganiayaan dengan Parang di Makassar Usai Buron Sepekan
Jaksa Penuntut Kasus Mark Up Video Desa Dipertanyakan di DPR