"Yang kedua, kepada para penipu, jangan jualan polisi untuk ngancam dan nakutin orang2 tertentu. Gak akan ngefek😂😂😂"
Dari postingannya, terang benderang Zainal tidak menyangka pelakunya adalah pemerintah atau polisi sungguhan. Meski si penelpon mengaku sebagai aparat, pakar UGM ini sudah menduga itu penipuan. Bahkan, ia menyebut si penipu itu "tolol".
Namun begitu, ia menyayangkan betapa pelaku semacam ini seolah diberi ruang bebas. Penegakan hukum terhadap mereka terasa lamban. Memang, di era kebebasan komunikasi seperti sekarang, menangkap pelaku penipuan telepon bukan perkara gampang. Coba pikir, hidup kita sekarang bergantung pada gawai. Ketinggalan HP rasanya ketinggalan segalanya.
Yang menarik, coba perhatikan pemberitaan media soal kasus Zainal ini. Ada yang judulnya "Zainal Arifin Mochtar Diteror Oknum Mengaku Polisi, Polresta Yogyakarta: Bukan Anggota Kami." Lainnya menulis "Guru Besar UGM Zainal Arifin Mochtar Dapat Teror Telepon Ancaman Penangkapan."
Ketika semua laporan ini disatukan, kesannya ruang publik kita sedang dipenuhi ancaman teror. Kebebasan seakan-akan terancam. Tapi, benarkah realitas sehari-hari kita sedramatis itu? Jawabannya mungkin berbeda bagi tiap orang. Ada yang merasa masih bebas sebebas-bebasnya. Ada pula yang ragu.
Penulis Erizal
Artikel Terkait
Patung Macan Aneh di Kediri Justru Jadi Magnet Wisata dan Pendorong Ekonomi Desa
Babi Ngaku Halal: Sindiran Pedas Puji Anugrah Laksono pada Para Pengkotbah Moral
Di Balik Stereotip Manja: Kesepian yang Tak Terungkap dari Anak Bungsu
Retret Kabinet Berakhir, Prabowo Apresiasi Inisiatif Menteri dan Sinyalkan Optimisme 2026