Bank Sentral Thailand bersiap mengencangkan pengawasan atas penarikan uang tunai dalam jumlah fantastis. Langkah ini diambil setelah mereka mendeteksi transaksi-transaksi mencurigakan yang nilainya mencapai jutaan dolar AS. Kekhawatiran terhadap aliran dana ilegal dan stabilitas ekonomi nasional pun kian meningkat.
Menurut laporan Bloomberg, aturan baru sedang disiapkan. Nantinya, bank-bank komersial akan diwajibkan melakukan uji tuntas yang lebih ketat. Mereka juga harus melaporkan setiap penarikan yang melebihi batas tertentu. Intinya, kontrol akan diperketat.
Pemicu langsung kebijakan ini adalah dua transaksi tak biasa yang ditemukan otoritas moneter. Masing-masing bernilai lebih dari 6 juta dolar AS, dan terjadi hanya beberapa hari sebelum pemilihan nasional 8 Februari 2026 mendatang. Menurut bank sentral, gelontoran dana tunai sebesar itu berpotensi mengganggu perekonomian jika dibiarkan.
Gubernur Bank Sentral Thailand, Vitai Ratanakorn, tak menyembunyikan keheranannya. Dalam sebuah seminar ekonomi Rabu lalu (28/1), ia mempertanyakan motif di balik penarikan sebesar itu.
“Kami menemukan penarikan sebesar 250 juta baht. Siapa yang membutuhkan 250 juta baht dalam bentuk tunai?” ujarnya.
“Ada lagi penarikan lain sebesar 200 juta baht, dilakukan seluruhnya dalam uang kertas 100 baht. Inilah saatnya bank sentral harus bertindak. Aktivitas semacam ini merusak,” imbuh Vitai.
Totalnya, penarikan tunai mencurigakan itu mendekati angka 15 juta dolar AS. Waktunya pun kebetulan atau mungkin bukan bersamaan dengan penyelidikan Komisi Pemilu Thailand soal dugaan praktik pembelian suara. Sebuah survei yang dirilis Bangkok Post mengungkap fakta mencengangkan: lebih dari seperempat calon pemilih mengaku bersedia mendukung kandidat yang menawarkan uang tunai.
Vitai mengatakan aturan baru akan diberlakukan dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Ambang batas pelaporannya diperkirakan antara 3 hingga 5 juta baht. Meski begitu, ia enggan berspekulasi apakah kasus terbaru ini terkait langsung dengan pemilu. “Kami tidak berasumsi begitu,” katanya.
Di sisi lain, kebijakan ini adalah bagian dari upaya lebih luas. Bank sentral ingin mengatasi persoalan struktural, terutama aliran dana di ekonomi bawah tanah yang dianggap menghambat pertumbuhan jangka panjang.
“Tidak ada yang butuh 3 sampai 5 juta baht tunai untuk beli apa pun. Kalau beli tanah atau aset, bisa lewat transfer atau cek,” tegas Vitai.
Menurutnya, transaksi elektronik membuat arus dana lebih mudah dilacak dan membantu tekan aktivitas ilegal.
“Jika transaksi bergerak lewat sistem perbankan, masalah uang gelap jadi jauh lebih mudah dikelola,” tambahnya.
Vitai, yang baru menjabat kurang dari empat bulan, mengungkapkan wewenang untuk memantau pergerakan uang tunai besar sebenarnya sudah ada sejak lama. Hanya saja, jarang digunakan.
“Kami punya wewenang ini selama beberapa dekade, tapi belum kami gunakan. Kalau kami tidak bertindak, siapa lagi?” katanya dengan nada tegas.
Langkah pengawasan tak hanya pada uang tunai. Perdagangan emas juga jadi sasaran. Mulai awal Maret nanti, perdagangan emas daring dibatasi 50 juta baht per hari. Kebijakan ini hanya untuk transaksi baru, bukan untuk emas yang sudah dipegang investor. Ambang batasnya pun bisa ditinjau ulang.
Selain itu, aturan pelaporan baru sudah berlaku sejak 26 Januari. Pedagang emas domestik utama kini wajib melaporkan transaksi di atas 20 juta baht.
“Kenaikan harga emas memberi tekanan langsung pada baht. Saya harap langkah-langkah ini mengurangi penjualan dolar dan membantu stabilkan mata uang,” tutur Vitai.
Baht sendiri tercatat menguat hampir 10 persen dalam setahun terakhir menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik kedua di Asia. Penguatan yang sebagian dipicu aktivitas perdagangan emas ini memberi tekanan tambahan pada ekspor dan pariwisata.
Vitai menegaskan bank sentral telah melakukan intervensi agresif untuk jaga stabilitas nilai tukar. Semua tetap dalam koridor aturan internasional.
“Kami bertindak dengan kapasitas penuh untuk mengelola baht, tanpa melampaui batas sampai ke level manipulasi mata uang,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020