Di Balik IHSG Anjlok 8%, BEI Tegaskan Minat IPO Tak Surut

- Rabu, 28 Januari 2026 | 18:00 WIB
Di Balik IHSG Anjlok 8%, BEI Tegaskan Minat IPO Tak Surut

Gejolak hebat mengguncang pasar modal Indonesia hari ini, Rabu (28/1). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok lebih dari 8 persen, sampai-sampai Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa memberlakukan trading halt atau penghentian perdagangan sementara. Suasana di lantai bursa pasti tegang.

Tapi di tengah kondisi itu, BEI justru menyuarakan optimisme. Mereka memastikan gejolak sesaat ini tidak serta-merta mematikan minat perusahaan untuk go public atau melakukan IPO.

I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, menjadi sosok yang menegaskan hal itu. Ia tampil tenang di hadapan wartawan di Gedung BEI, Jakarta.

"Minat menjadi perusahaan tercatat itu saya tidak melihat penurunan," ujarnya dengan lugas.

Menurut Nyoman, dari sisi pengajuan pencatatan atau submission, angkanya masih relatif stabil. Tidak ada perubahan yang drastis. Hanya saja, fokus BEI sekarang bergeser sedikit. Mereka ingin memastikan kualitas perusahaan yang masuk benar-benar bagus, sesuai harapan regulator dan seluruh pemangku kepentingan di pasar modal.

"Dari sisi submission ya tidak berubah," lanjutnya. "Tinggal kita nanti memastikan apakah perusahaan-perusahaan yang masuk itu sudah sesuai ekspektasi. Baik dari sisi kami sebagai regulator, maupun nantinya dari stakeholder kita."

Optimisme itu punya dasar yang jelas. BEI punya target jangka panjang yang cukup ambisius. Menjelang 2026, mereka membidik total 555 pencatatan efek. Di dalamnya, tercakup sekitar 50 perusahaan baru yang diharapkan bisa melantai lewat IPO.

Target lain yang tak kalah penting adalah memperbanyak investor ritel. Pada tahun yang sama, BEI ingin menambah sekitar 2 juta Single Investor Identification (SID) baru. Jadi, pertumbuhan tidak hanya ditarik dari sisi perusahaan, tapi juga dari kekuatan investor kecil.

Jadi, meski hari ini grafik di monitor memerah, semangat untuk membangun pasar modal yang lebih besar dan sehat tampaknya belum padam.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar