Menurut Iman, data KSEI itu yang selama ini dipakai. Tapi rupanya, bagi MSCI, penggabungan itu kurang transparan. Mereka butuh data yang lebih terperinci.
Tak tinggal diam, BEI bersama OJK dan KSEI sudah menggelar diskusi intensif dengan MSCI. Pembicaraan berlangsung sejak tahun lalu hingga pekan lalu. Intinya, pihak Indonesia menyampaikan keberatan. Mereka merasa metodologi baru ini tidak konsisten karena tidak diberlakukan secara merata di semua bursa.
Namun begitu, Iman menegaskan sikap menghormati MSCI. Sebagai penyedia indeks global, independensi dan metodologi mereka diakui. Di sisi lain, tuntutan transparansi data free float ini justru dilihat sebagai masukan yang membangun. Bukan cuma untuk kepentingan MSCI, tapi untuk kemajuan pasar modal Indonesia sendiri.
Sekarang, upaya memenuhi permintaan data itu sedang digenjot. Koordinasi antara BEI, OJK, dan KSEI terus dilakukan. Tujuannya jelas: memenuhi kebutuhan MSCI tanpa menimbulkan gejolak atau kepanikan di kalangan investor.
Jadi, meski ada ancaman, semangatnya justru menata ulang transparansi. Tenggat waktu 2026 jadi batas yang harus diisi dengan kerja nyata.
Artikel Terkait
Centrepark Raih Top Brand Award 2026 untuk Kategori Parking Management
Pertamina Geothermal Energy (PGEO) Bidik Bisnis Sewa Alat Tambang
Jalan Tol Bali Mandara Ditutup 32 Jam untuk Nyepi 2026
Elnusa Siapkan Empat Strategi Dukung Target Satu Juta Barel Minyak per Hari