Pasar saham Indonesia benar-benar berdarah-darah hari Rabu kemarin. IHSG terperosok sepanjang hari, bahkan sempat membuat BEI mengambil langkah ekstrem: menghentikan perdagangan untuk sementara. Pemicunya? Indeks anjlok hingga 8 persen di awal sesi kedua. Suasana di lantai bursa pasti cukup mencekam.
Menurut Direktur Perdagangan BEI, Irvan Susandy, tekanan jual dari investor asing masih sangat kuat. Pada sesi pertama saja, catatan net sell alias arus keluar bersih mereka mencapai Rp 3 triliun.
"Di sesi I net outflow dari asing Rp 3 triliun. Which is menurut kita Rp 3 triliun dari Rp 30 triliun, karena posisinya sebenarnya asing juga masih ada beli gitu loh dan cukup banyak belinya. Jadi kalau impact margin kemungkinan besar begitu,"
ujar Irvan saat ditemui di Gedung BEI.
Namun begitu, dia mencoba menenangkan. Pelemahan tajam ini, kata dia, belum tentu jadi masalah besar bagi investor ritel lokal. Irvan mengaku belum melihat tanda-tanda serius terkait masalah transaksi margin atau gelombang margin call yang masif di kalangan investor kecil.
"Tapi sejauh ini sih saya pikir harusnya sih gak ada isu problem dari transaksi margin ya. Tapi memang suka-tidak suka kemungkinan besar ada for sale, karena kan ya beberapa saham yang masuk saham margin kan ada yang juga udah lebih dari 7%. Ya kan ada yang 10, ada yang 15 gitu ya. Nah suka tidak suka pasti ada kemungkinan besar juga ada for sale,"
Artikel Terkait
Groundbreaking Peternakan Ayam Rp 20 Triliun Dimulai Awal Februari
IHSG Tergelincir 8%, Bos Danantara Desak BEI Tanggapi Laporan MSCI
Purbaya Guncang Kemenkeu, 36 Pejabat Eselon II Diganti
Tambang Emas Martabe Beralih ke BUMN Baru di Bawah Danantara