PT Trisula Textile Industries Tbk, atau yang dikenal dengan kode BELL, punya target ambisius. Mereka membidik pertumbuhan kinerja hingga 8 persen di tahun 2026. Bukan angka yang main-main, tapi manajemen yakin itu bisa dicapai.
Kuncinya ada pada dua hal. Pertama, produk mereka punya karakter unik yang sulit ditiru. Kedua, kemampuan mereka melayani pesanan khusus atau customized order. Fleksibilitas inilah yang diyakini bakal menjaga relevansi dan daya saing produk BELL, baik di dalam negeri maupun di mata dunia internasional.
“Fleksibilitas dalam pemenuhan pesanan akan membuat produk BELL tetap relevan dan memiliki daya saing, baik di pasar domestik maupun internasional,”
Begitu penjelasan manajemen BELL dalam tanggapannya terhadap pertanyaan Bursa Efek Indonesia, Selasa lalu.
Di sisi lain, perseroan juga mengandalkan kekuatan merek yang sudah mapan. Bellini dan Caterina bukan nama baru di pasar. Reputasi itu jadi modal berharga untuk mempertahankan loyalitas pelanggan lama, di tengah persaingan yang makin sengit saja.
Ya, persaingan memang tengah memanas. Manajemen mengakui, gempuran produk impor ilegal dengan harga miring turut mempersempit ruang gerak. Tapi dampaknya bagi BELL disebut masih terbatas. Kenapa? Karena segmen pasar yang mereka bidik memang berbeda: kelas menengah ke atas.
Artikel Terkait
Pasar Modal Indonesia Dapat Kartu Kuning dari MSCI, Rp150 Triliun Terancam Keluar
IHSG Terjun Bebas 6,71%, Rupiah Ikut Melemah di Tengah Sentimen Campur-Campur Asia
Pasar Komoditas Lesu, Harga Timah Anjlok 4,55 Persen
Badai Musim Dingin AS Pukul Produksi Minyak, Harga Melonjak 3 Persen