PT Trisula Textile Industries Tbk, atau yang dikenal dengan kode BELL, punya target ambisius. Mereka membidik pertumbuhan kinerja hingga 8 persen di tahun 2026. Bukan angka yang main-main, tapi manajemen yakin itu bisa dicapai.
Kuncinya ada pada dua hal. Pertama, produk mereka punya karakter unik yang sulit ditiru. Kedua, kemampuan mereka melayani pesanan khusus atau customized order. Fleksibilitas inilah yang diyakini bakal menjaga relevansi dan daya saing produk BELL, baik di dalam negeri maupun di mata dunia internasional.
“Fleksibilitas dalam pemenuhan pesanan akan membuat produk BELL tetap relevan dan memiliki daya saing, baik di pasar domestik maupun internasional,”
Begitu penjelasan manajemen BELL dalam tanggapannya terhadap pertanyaan Bursa Efek Indonesia, Selasa lalu.
Di sisi lain, perseroan juga mengandalkan kekuatan merek yang sudah mapan. Bellini dan Caterina bukan nama baru di pasar. Reputasi itu jadi modal berharga untuk mempertahankan loyalitas pelanggan lama, di tengah persaingan yang makin sengit saja.
Ya, persaingan memang tengah memanas. Manajemen mengakui, gempuran produk impor ilegal dengan harga miring turut mempersempit ruang gerak. Tapi dampaknya bagi BELL disebut masih terbatas. Kenapa? Karena segmen pasar yang mereka bidik memang berbeda: kelas menengah ke atas.
“Segmen ini lebih mengutamakan kualitas, desain, dan diferensiasi produk ketimbang sekadar harga,” tutur mereka.
Jadi, bagi konsumen mereka, harga seringkali bukan faktor utama.
Dari kacamata operasional, pabrikasi utama masih dipegang oleh induk usaha. Tingkat utilisasi pascapandemi dinilai masih punya ruang untuk ditingkatkan lagi. Sementara untuk penjualan, kain didistribusikan melalui agen dan anak perusahaan. Bisnis ritel dengan label JOBB dan Jack Nicklaus pun terus disesuaikan dengan dinamika pasar yang berubah-ubah.
Tak hanya itu, ada fokus baru yang sedang digarap. Perusahaan sedang memperkuat operasional anak usahanya, PT Trimas Bellindo Aparel Manufaktur, yang bergerak di bidang garmen. Saat ini, anak usaha tersebut masih dalam fase penyesuaian dan stabilisasi pesanan. Langkah ini jelas bagian dari strategi integrasi ke sektor hilir.
“Hingga saat ini tidak terdapat rencana bisnis baru di luar strategi yang telah dipaparkan,” tegas manajemen.
Nah, sentimen eksternal ternyata juga memberi angin. Kenaikan harga saham BELL belakangan ini didorong oleh kabar rencana pemerintah yang menyiapkan dana sekitar Rp101 triliun untuk menyokong industri tekstil nasional. Kabar itu cukup menggoda minat investor.
p>Akibatnya, saham BELL sempat disuspensi oleh Bursa dua kali, tepatnya pada 20 dan 22 Januari. Hingga kini, sahamnya masih dikunci. Tujuannya, memberi waktu yang cukup bagi para pelaku pasar untuk mempertimbangkan setiap langkah investasi dengan lebih matang.
Artikel Terkait
ITMG Bagikan Dividen Final Rp992 per Saham untuk Tahun Buku 2025
MDS Retailing Cetak Laba Bersih Rp692 Miliar di Kuartal I-2026, Didorong Lonjakan Penjualan Luar Jawa
Laba Bersih Prodia Melonjak 150 Persen di Kuartal I-2026, Ditopang Permintaan Tes Diagnostik
IHSG Ditutup Menguat 0,41 Persen ke 7.101, Sektor Non-Siklikal Pimpin Kenaikan