“Segmen ini lebih mengutamakan kualitas, desain, dan diferensiasi produk ketimbang sekadar harga,” tutur mereka.
Jadi, bagi konsumen mereka, harga seringkali bukan faktor utama.
Dari kacamata operasional, pabrikasi utama masih dipegang oleh induk usaha. Tingkat utilisasi pascapandemi dinilai masih punya ruang untuk ditingkatkan lagi. Sementara untuk penjualan, kain didistribusikan melalui agen dan anak perusahaan. Bisnis ritel dengan label JOBB dan Jack Nicklaus pun terus disesuaikan dengan dinamika pasar yang berubah-ubah.
Tak hanya itu, ada fokus baru yang sedang digarap. Perusahaan sedang memperkuat operasional anak usahanya, PT Trimas Bellindo Aparel Manufaktur, yang bergerak di bidang garmen. Saat ini, anak usaha tersebut masih dalam fase penyesuaian dan stabilisasi pesanan. Langkah ini jelas bagian dari strategi integrasi ke sektor hilir.
“Hingga saat ini tidak terdapat rencana bisnis baru di luar strategi yang telah dipaparkan,” tegas manajemen.
Nah, sentimen eksternal ternyata juga memberi angin. Kenaikan harga saham BELL belakangan ini didorong oleh kabar rencana pemerintah yang menyiapkan dana sekitar Rp101 triliun untuk menyokong industri tekstil nasional. Kabar itu cukup menggoda minat investor.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan 100 Ribu Tempat Magang untuk Lulusan Baru di 2026
IHSG Anjlok 6,71% Usai MSCI Bekukan Perubahan Indeks
Emas Antam Melonjak Rp 52 Ribu, Pajak Pembeli Akhir Dihapus
IHSG Terjun Bebas, Hampir 500 Saham Membeku di Zona Merah