Pasar saham Amerika Serikat menutup sesi Selasa dengan pergerakan yang tak seragam. Di satu sisi, indeks S&P 500 berhasil mencetak rekor penutupan baru. Namun begitu, hal itu tak cukup untuk mengangkat performa Dow Jones Industrial Average yang justru terpuruk. Sentimen campur aduk ini muncul di tengah antisipasi pasar terhadap keputusan Federal Reserve dan laporan laba perusahaan teknologi raksasa yang akan segera dirilis.
Rincian pergerakannya cukup jelas menggambarkan perpecahan itu. Dow Jones anjlok 0,8 persen ke level 49.003,41 poin. Sementara itu, S&P 500 justru naik 0,4 persen ke 6.979,49 poin. Nasdaq Composite, yang didominasi saham teknologi, melesat lebih tinggi lagi dengan kenaikan 0,9 persen menjadi 23.817,10 poin.
Lalu, apa yang menyeret Dow Jones ke zona merah? Dua saham menjadi penyumbang terbesar. UnitedHealth Group (UNH) jadi beban utama. Saham raksasa kesehatan ini terjun bebas menyusul kabar buruk tentang usulan kenaikan pembayaran untuk rencana Medicare Advantage tahun depan yang jauh di bawah perkiraan pasar.
Boeing (BA) juga ikut menekan, meski perusahaan pesawat itu sebenarnya baru saja melaporkan laba triwulanan. Di sisi lain, semangat justru datang dari sektor chip atau semikonduktor. Kenaikan berkelanjutan di sektor ini menjadi penopang kuat bagi S&P dan Nasdaq. Bahkan, S&P 500 sempat menyentuh puncak intraday tertinggi sepanjang masa di 6.989,24 poin.
Semua mata kini tertuju pada Federal Reserve. Bank sentral AS memulai pertemuan penetapan kebijakan dua hari yang akan berakhir Rabu ini. Pasar seolah memasuki mode "tunggu dan lihat", sehingga berita lain seperti pengumuman Presiden Donald Trump tentang kenaikan tarif impor untuk Korea Selatan hanya memberi dampak kecil pada sentimen.
Konsensus di kalangan analis adalah Fed akan mempertahankan suku bunga acuan. Para pembuat kebijakan tampaknya masih ingin mengamati lebih lama dampak dari pelonggaran kondisi keuangan dan tren inflasi yang mulai stabil. Data terbaru juga memperkuat sinyal bahwa pemotongan suku bunga belum akan dilakukan dalam waktu dekat.
Blerina Uruci, Kepala Ekonom AS di T. Rowe Price, memberikan pandangannya.
"Pertemuan FOMC Januari ini seharusnya berjalan mulus. Kami memperkirakan suku bunga tetap, dengan komunikasi yang tidak terburu-buru untuk memotong. Pernyataan mereka kemungkinan akan mencerminkan stabilitas sikap kebijakan saat ini, tapi tetap waspada pada kondisi ekonomi yang terus berkembang," jelas Uruci.
“Kami mempertahankan pandangan bahwa suku bunga akan stabil di paruh pertama tahun ini, dengan dua potensi penurunan di paruh kedua. Risikonya adalah jika inflasi melambat lebih cepat, yang bisa memicu lebih banyak pemotongan suku bunga daripada yang diharga pasar saat ini,” tambahnya.
Selain soal timing pemotongan suku bunga, investor juga bakal menyimak kabar tentang siapa calon gubernur Fed berikutnya. Masa jabatan Jerome Powell sebagai ketua akan berakhir pada bulan Mei mendatang, jadi spekulasi siapa penggantinya mulai menghangat.
Artikel Terkait
Penerima PKH dan Bantuan Sembako Akan Dilebur ke Koperasi Desa Merah Putih
Emas Anjlok ke Terendah Sebulan, Kekhawatiran Inflasi dan Ketegangan Iran-Timur Tengah Kembali Meningkat
UEA Resmi Keluar dari OPEC, Fokus pada Kepentingan Nasional
Wall Street Melemah, Kekhawatiran Kinerja OpenAI Tekan Saham Teknologi Jelang Rilis Laba Raksasa AS