Belum selesai, Senin malam Trump juga mengatakan akan menaikkan tarif untuk barang-barang Korea Selatan menjadi 25%. Alasannya, Seoul dianggap menunda pemberlakuan kesepakatan dagang. Pasar pun tetap waspada, menunggu langkah Trump berikutnya. Ketegangan geopolitik di Iran dan Timur Tengah, ditambah kedatangan kapal-kapal AS di sana, juga menambah daftar kecemasan investor.
Di sisi domestik, ceritanya juga tidak ringan. Pemerintah diprediksi bakal menghadapi tantangan berat soal pembiayaan utang di tahun 2026. Target pembiayaan utang netto di RAPBN 2026 tercatat Rp832,21 triliun. Tapi, kebutuhan untuk menarik utang baru secara bruto jauh lebih besar: mencapai Rp1.650 triliun! Angka yang fantastis ini bukan cuma untuk nutup defisit, tapi lebih signifikan lagi untuk melunasi pokok utang lama yang jatuh tempo tahun depan.
Risiko utamanya? Refinancing risk. Risiko ini makin menguat seiring memendeknya tren rata-rata jatuh tempo utang (ATM). Dari 9,73 tahun di 2014, diprakirakan merosot jadi 7,7 tahun di 2026. Artinya, risiko gagal melakukan pembiayaan kembali atas utang yang jatuh tempo, atau terpaksa membayar biaya yang lebih mahal saat refinancing, menjadi nyata.
Selain itu, ada juga shortage risk. Ketidakpastian kondisi ekonomi makro dan pasar keuangan global membuat investor, terutama asing, bersikap super hati-hati. Ketergantungan pada penjualan SBN sebagai instrumen utama pun menghadapi tantangan kompleks. Posisi investor asing masih ‘wait and see’. Mereka, antara lain, mencermati kebijakan fiskal Indonesia yang dinilai kurang hati-hati.
Dengan mempertimbangkan semua faktor rumit tadi, Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah ke depan akan fluktuatif. Potensi pelemahan masih terbuka. Dia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.760 hingga Rp16.790 per dolar AS di perdagangan selanjutnya.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
LPS Soroti Suku Bunga Simpanan yang Belum Turun Sesuai Sinyal Pasar
BCA Pacu Target Kredit 2026, Optimisme Tumbuh Dua Digit Mengintai
IRA-Internet Rakyat Siap Meluncur, Usai Lulus Uji Laik Operasi
MRT Jakarta Melaju ke Tangerang: Kajian Serpong-Balaraja Libatkan Swasta