Dalam sidang kabinet Jumat lalu, Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan imbauan khusus terkait perayaan Idulfitri tahun depan. Ia meminta para pejabatnya untuk menghindari penyelenggaraan open house yang berlebihan dan terkesan mewah. Sidang itu sendiri digelar di Istana Negara, Jakarta.
Alasannya jelas: memberi contoh kesederhanaan. Prabowo menekankan, sikap ini penting sebagai bentuk empati. Terutama mengingat masih banyak saudara kita di berbagai daerah yang sedang berjuang menghadapi dampak bencana.
"Kita juga harus memberi contoh, open house atau apa jangan terlalu mewah-mewahan," ujarnya.
Menurutnya, suasana prihatin itu perlu direspons dengan langkah yang wajar. "Saudara kita di daerah bencana, dan suasana ini kita kasih contoh ke rakyat," kata Prabowo lagi.
Namun begitu, permintaannya ini bukan larangan mutlak. Presiden tak ingin kegiatan silaturahmi itu hilang sama sekali. Ia masih melihat nilai positifnya, terutama untuk mendorong perputaran ekonomi di level akar rumput.
"Tapi kita juga jangan total istilahnya tutup semua acara. Kalau tidak ekonomi kita juga enggak jalan," jelasnya.
Pembahasan dalam kabinet itu ternyata tak cuma soal Lebaran. Prabowo juga menyoroti ancaman dari luar, yaitu ketegangan geopolitik global yang sedang memanas. Ia secara khusus menyebut perkembangan di Eropa dan Timur Tengah.
Konflik-konflik itu, dalam pandangannya, berpotensi besar mengganggu stabilitas harga. Mulai dari harga minyak dunia yang melonjak, hingga efek berantainya pada harga bahan pangan di dalam negeri.
"Kita hadapi perkembangan global di kawasan Eropa dan Timur Tengah, dan ini tentunya memberi dampak kepada kita karena akan mempengaruhi harga BBM. Harga BBM juga bisa mempengaruhi harga makanan," katanya.
Meski demikian, pemerintah mengklaim tak tinggal diam. Untuk mengantisipasi gejolak, sejumlah langkah pengamanan stok pangan nasional telah diambil. Begitu pula dengan sektor energi, rencana-rencana cadangan disebut sudah disiapkan dan akan dieksekusi lebih cepat.
Di akhir arahannya, Prabowo menekankan satu hal: kewaspadaan. Kondisi Indonesia mungkin terlihat stabil saat ini, tapi itu bukan alasan untuk berpuas diri. Langkah penghematan, khususnya konsumsi BBM, harus tetap digencarkan.
"Kita tidak bisa menganggap bahwa apapun terjadi kita aman. Kita bersyukur kita aman, tapi kita harus tetap mengurangi konsumsi BBM kita," tutup Presiden.
Artikel Terkait
KCIC Targetkan 30 Ribu Penumpang Harian Whoosh Tercapai pada 2028
TikTok Akui Sistem Deteksi Usia Belum Sempurna, 1,7 Juta Akun Anak Diblokir tapi Banyak Pengguna Dewasa Ikut Terdampak
Roy Suryo dan Dokter Tifa Kembali Desak Komisi III DPR Gelar RDPU soal Kasus Ijazah Jokowi
Anggaran Keselamatan KAI Dipertanyakan Usai Kecelakaan di Bekasi Timur, Pakar: Publik Berhak Tahu Alokasi Dana Proteksi