Harga Minyak Anjlok Tiga Persen Dipicu Optimisme Kesepakatan Damai AS-Iran

- Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:45 WIB
Harga Minyak Anjlok Tiga Persen Dipicu Optimisme Kesepakatan Damai AS-Iran

Harga minyak mentah dunia anjlok pada Jumat, 12 Juni 2026, dan berada dalam jalur menuju kerugian mingguan yang signifikan. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu ekspektasi bahwa Selat Hormuz jalur pelayaran paling strategis bagi pasokan energi global akan segera dibuka kembali.

Presiden AS Donald Trump pada Kamis menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran telah tercapai dan dapat ditandatangani dalam waktu dekat, bahkan mungkin pada akhir pekan. Pernyataan tersebut diperkuat oleh respons positif dari Teheran serta mediator utama Pakistan pada Jumat, yang semakin memperkuat sentimen pasar. Harga minyak mentah Brent berjangka untuk kontrak Agustus, yang menjadi acuan global, terpantau turun 3,7 persen menjadi 87,00 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Juli merosot 3,6 persen ke level 84,54 dolar AS per barel. Kedua patokan tersebut diperkirakan akan mencatat kerugian mingguan lebih dari enam persen.

Brent sempat jatuh di bawah level 90 dolar AS per barel pada Kamis setelah Trump mengisyaratkan bahwa perang dengan Iran yang telah berlangsung selama empat bulan mungkin akan segera berakhir. Menurut pernyataan presiden, kesepakatan itu tidak hanya akan membuka blokade Selat Hormuz yang selama berbulan-bulan menutup jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia tetapi juga mengakhiri blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran. Trump juga menambahkan bahwa Iran "tidak akan pernah" memiliki senjata nuklir berdasarkan kesepakatan tersebut.

Namun, dinamika politik kembali memanas. Pada Jumat pagi, Trump mengecam Iran atas retorika yang menurutnya "tidak ada hubungannya dengan kebenaran." Kekesalan ini muncul setelah Kantor Berita Mehr Iran melaporkan bahwa nota kesepahaman dengan Washington akan mencakup pelepasan dana Iran yang dibekukan. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa negosiasi akhir akan berfokus pada isu nuklir dan ekonomi, tanpa menyentuh program rudal Iran.

Harapan akan perdamaian telah mendorong harga minyak mentah Brent kembali ke level yang terakhir terlihat pada awal Maret, tepat setelah dimulainya serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Meskipun demikian, Brent masih bertahan di atas level pra-perang yang berkisar sekitar 70 dolar AS per barel. Lonjakan harga minyak akibat konflik sebelumnya telah memicu guncangan inflasi, sebagaimana terlihat dari data harga konsumen dan produsen utama AS pekan ini. Bank Sentral Eropa pada Kamis bahkan menyebut lonjakan harga minyak yang terkait dengan konflik Iran sebagai faktor utama di balik keputusannya untuk menaikkan suku bunga.

Penurunan harga minyak semakin terakselerasi sejak akhir Mei seiring dengan meningkatnya harapan akan segera berakhirnya pertempuran. Vikas Dwivedi, ahli strategi energi global di Macquarie, menilai bahwa penurunan harga minyak mentah sekitar 11 dolar AS per barel sejak 22 Mei didorong oleh optimisme pasar terhadap kemungkinan kesepakatan AS-Iran untuk membuka Selat Hormuz.

"Penurunan ini mendorong harga minyak mentah kembali ke titik terendah yang menurut kami akan bertahan selama Selat tersebut tetap tertutup secara efektif," ujar Dwivedi. Ia menambahkan bahwa dari titik ini, potensi kenaikan jangka pendek lebih besar dibandingkan penurunan lebih lanjut tanpa adanya perubahan besar menuju pembukaan kembali selat. "Bahkan, rasio risiko/imbalan terbaik sejak perang dimulai adalah dengan mengesampingkan model 'terperinci' dan berdagang di kisaran sekitar 10 dolar AS (mungkin lebih dekat ke 6 dolar AS)," katanya.

Dwivedi juga menyoroti fenomena menarik di pasar. Meskipun terjadi konflik kinetik yang diperbarui dan potensi eskalasi, pasar tetap mempertahankan lintasan penurunan yang menandakan pandangan bahwa kesepakatan masih terus berjalan. "Tantangannya seiring berjalannya waktu adalah AS tampaknya termotivasi untuk menyelesaikan kesepakatan dan Iran termotivasi untuk menunggu," tambahnya.

Di sisi lain, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Kamis merevisi prospek permintaan minyak dunia. Kartel tersebut kini memperkirakan permintaan minyak global pada 2026 akan tumbuh sebesar 1 juta barel per hari dibandingkan tahun lalu, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 1,2 juta barel per hari. Sebaliknya, OPEC menaikkan proyeksi permintaan untuk 2027 menjadi pertumbuhan 1,7 juta barel per hari, naik dari 1,5 juta barel per hari dalam estimasi sebelumnya.

Panduan OPEC ini dinilai jauh lebih optimis dibandingkan perkiraan dari lembaga lain. Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan permintaan minyak dunia akan turun sebesar 1,1 juta barel per hari pada 2026, sementara Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan kontraksi sebesar 420.000 barel per hari dibandingkan tahun lalu. "Kinerja ekonomi global tetap tangguh sejauh tahun ini. Peristiwa geopolitik, serta perkembangan terkait tarif AS, tetap menjadi isu utama yang perlu dipantau pada paruh kedua tahun 2026," demikian pernyataan OPEC, seraya mempertahankan perkiraan pertumbuhan produk domestik bruto global yang tidak berubah untuk 2026 dan 2027.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar