Pemerintah Pastikan Stok LPG Aman dengan Alihkan Impor dari Timur Tengah ke AS

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:15 WIB
Pemerintah Pastikan Stok LPG Aman dengan Alihkan Impor dari Timur Tengah ke AS

Meski ada gejolak politik global yang mempengaruhi rantai pasokan, pemerintah meyakinkan bahwa stok LPG di dalam negeri tetap aman. Caranya? Dengan menggeser sumber impor dan mengamankan kontrak jangka panjang dari beberapa negara. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat lalu, Bahlil mengungkap fakta menarik. Selama ini, sekitar 20 persen impor LPG kita ternyata mengandalkan kawasan Timur Tengah. Namun begitu, situasi geopolitik yang belakangan makin panas memaksa pemerintah untuk mencari sumber lain.

“Total impor LPG kita kan 7,6 juta ton. Sebagian besarnya, sekitar 70-75 persen, sudah dari Amerika Serikat,” ujar Bahlil.

Nah, untuk mengantisipasi gangguan dari Timur Tengah, pemerintah pun mengambil langkah cepat. Mereka beralih ke kontrak jangka panjang dengan AS dan beberapa negara lainnya. Bahkan, dua kargo dari Australia disebutkan akan tiba sebelum akhir pekan ini.

Soal pasokan ke depan, terutama menyambut Lebaran, tampaknya sudah diatur jadwalnya. Pemerintah sepertinya ingin menghindari kekosongan stok.

“Kita siagakan lagi dua kargo yang masuk tanggal 28 Maret. Lalu, berturut-turut pada 4 April dan 8 April akan ada kargo tambahan lagi,” jelasnya.

Di sisi lain, kabar baik juga datang dari pasokan solar. Menurut Bahlil, kebutuhan solar dalam negeri sekarang sepenuhnya bisa dipenuhi dari produksi lokal. Keberhasilan ini tak lepas dari operasional RDMP di Kilang Balikpapan yang berjalan efektif.

“Alhamdulillah, solar kita sudah aman. RDMP Balikpapan itu membantu banget mengurangi ketergantungan impor,” katanya.

Lalu bagaimana dengan minyak mentah? Ternyata, sekitar 20 persen impor minyak kita sebelumnya juga dari Timur Tengah. Tapi tenang, pemerintah klaim sudah punya cadangan pemasok dari negara lain. Memang, pengiriman dari AS lebih lama bisa sampai 40 hari, dibandingkan dari Timur Tengah yang cuma tiga minggu. Tapi dengan kontrak jangka panjang, setidaknya kepastian pasokan lebih terjamin.

Jadi, intinya pemerintah berusaha keras agar dinamika di kancah global tidak sampai menggoyah stok energi dalam negeri. Mereka mengaku terus memantau dan menyiapkan skenario cadangan. Semoga saja rencana ini berjalan mulus.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar