Rupiah Merangkak Naik di Tengah Badai Ketidakpastian Global

- Selasa, 27 Januari 2026 | 16:30 WIB
Rupiah Merangkak Naik di Tengah Badai Ketidakpastian Global

Rupiah akhirnya menutup perdagangan Selasa (27/1) dengan catatan hijau. Mata uang kita menguat 14 poin, atau sekitar 0.08%, ke level Rp16.768 per dolar AS. Sebuah kenaikan yang tipis, tapi cukup berarti di tengah situasi global yang sedang tidak menentu.

Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, ada angin eksternal yang mendorong penguatan ini. Pasar saat ini fokus menunggu hasil pertemuan kebijakan The Fed yang berakhir Rabu ini.

“Perselisihan Presiden AS Donald Trump dengan Ketua Fed Jerome Powell, yang telah menimbulkan kekhawatiran tentang independensi Fed dari campur tangan politik, juga akan menjadi sorotan,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Secara luas, investor memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tetap. Namun begitu, sentimen politik di sana justru memanas. Ancaman shutdown pemerintahan AS kembali menggantung. Ini muncul setelah senator Demokrat berjanji memblokir RUU pendanaan besar, sebagai respons atas penembakan di Minneapolis baru-baru ini. Parlemen AS punya tenggat waktu 30 Januari untuk menghindari kebuntuan itu.

Dan pasar sudah bereaksi. Platform prediksi Polymarket menunjukkan peluang shutdown melonjak drastis, dari sekitar 8% di hari Jumat menjadi hampir 78% pada Senin. Cukup fantastis.

Belum lagi soal kebijakan perdagangan Trump yang terus berubah-ubah. Pekan lalu, ancaman tarif terhadap banyak negara Eropa ditarik kembali. Tapi kemudian, ancaman baru justru dilayangkan ke sekutu terdekat. Kanada, misalnya, diancam dengan embargo perdagangan efektif dan tarif 100% karena Trump menolak potensi perdagangan mereka dengan China.


Halaman:

Komentar