Rupiah akhirnya menutup perdagangan Selasa (27/1) dengan catatan hijau. Mata uang kita menguat 14 poin, atau sekitar 0.08%, ke level Rp16.768 per dolar AS. Sebuah kenaikan yang tipis, tapi cukup berarti di tengah situasi global yang sedang tidak menentu.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, ada angin eksternal yang mendorong penguatan ini. Pasar saat ini fokus menunggu hasil pertemuan kebijakan The Fed yang berakhir Rabu ini.
“Perselisihan Presiden AS Donald Trump dengan Ketua Fed Jerome Powell, yang telah menimbulkan kekhawatiran tentang independensi Fed dari campur tangan politik, juga akan menjadi sorotan,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Secara luas, investor memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tetap. Namun begitu, sentimen politik di sana justru memanas. Ancaman shutdown pemerintahan AS kembali menggantung. Ini muncul setelah senator Demokrat berjanji memblokir RUU pendanaan besar, sebagai respons atas penembakan di Minneapolis baru-baru ini. Parlemen AS punya tenggat waktu 30 Januari untuk menghindari kebuntuan itu.
Dan pasar sudah bereaksi. Platform prediksi Polymarket menunjukkan peluang shutdown melonjak drastis, dari sekitar 8% di hari Jumat menjadi hampir 78% pada Senin. Cukup fantastis.
Belum lagi soal kebijakan perdagangan Trump yang terus berubah-ubah. Pekan lalu, ancaman tarif terhadap banyak negara Eropa ditarik kembali. Tapi kemudian, ancaman baru justru dilayangkan ke sekutu terdekat. Kanada, misalnya, diancam dengan embargo perdagangan efektif dan tarif 100% karena Trump menolak potensi perdagangan mereka dengan China.
Belum selesai, Senin malam Trump juga mengatakan akan menaikkan tarif untuk barang-barang Korea Selatan menjadi 25%. Alasannya, Seoul dianggap menunda pemberlakuan kesepakatan dagang. Pasar pun tetap waspada, menunggu langkah Trump berikutnya. Ketegangan geopolitik di Iran dan Timur Tengah, ditambah kedatangan kapal-kapal AS di sana, juga menambah daftar kecemasan investor.
Di sisi domestik, ceritanya juga tidak ringan. Pemerintah diprediksi bakal menghadapi tantangan berat soal pembiayaan utang di tahun 2026. Target pembiayaan utang netto di RAPBN 2026 tercatat Rp832,21 triliun. Tapi, kebutuhan untuk menarik utang baru secara bruto jauh lebih besar: mencapai Rp1.650 triliun! Angka yang fantastis ini bukan cuma untuk nutup defisit, tapi lebih signifikan lagi untuk melunasi pokok utang lama yang jatuh tempo tahun depan.
Risiko utamanya? Refinancing risk. Risiko ini makin menguat seiring memendeknya tren rata-rata jatuh tempo utang (ATM). Dari 9,73 tahun di 2014, diprakirakan merosot jadi 7,7 tahun di 2026. Artinya, risiko gagal melakukan pembiayaan kembali atas utang yang jatuh tempo, atau terpaksa membayar biaya yang lebih mahal saat refinancing, menjadi nyata.
Selain itu, ada juga shortage risk. Ketidakpastian kondisi ekonomi makro dan pasar keuangan global membuat investor, terutama asing, bersikap super hati-hati. Ketergantungan pada penjualan SBN sebagai instrumen utama pun menghadapi tantangan kompleks. Posisi investor asing masih ‘wait and see’. Mereka, antara lain, mencermati kebijakan fiskal Indonesia yang dinilai kurang hati-hati.
Dengan mempertimbangkan semua faktor rumit tadi, Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah ke depan akan fluktuatif. Potensi pelemahan masih terbuka. Dia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.760 hingga Rp16.790 per dolar AS di perdagangan selanjutnya.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
IHSG Merosot Tujuh Hari Beruntun, Tertekan Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Asing
Harga Aluminium Anjlok Akibat Harapan Baru Negosiasi Damai AS-Iran
MNC Digital Entertainment Ajukan Pencatatan Saham Sekunder di Bursa Hong Kong
KAI Tutup Sementara Commuter Line Stasiun Bekasi Timur Usai Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek, 6 Tewas