Stephanus Koeswandi, VP of Operations PT Tata Metal Lestari, punya penjelasan soal pentingnya investasi ini. Menurutnya, CGL 2 adalah bagian dari komitmen memperkuat industri antara atau midstream.
“Industri antara memiliki peran krusial sebagai penghubung antara industri hulu dan hilir. Tanpa sektor ini yang kuat, rantai pasok akan rapuh dan ketergantungan impor terus tinggi,” kata Stephanus.
Perusahaannya saat ini tak cuma mampu memenuhi kebutuhan domestik. Mereka bahkan sudah mengekspor produk baja lapis ke 25 negara, termasuk pasar ketat seperti Amerika Serikat dan Eropa.
“Pembangunan CGL 2 ini merupakan bagian dari peta jalan kami untuk mencapai kapasitas terpasang hingga 2,5 juta ton baja lapis secara bertahap hingga 10 tahun ke depan, sekaligus mendukung program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan menghadirkan produk Made in Indonesia berstandar global,” ungkapnya.
Fasilitas baru ini nantinya akan menambah produksi 250 ribu ton baja lapis per tahun. Angka itu melengkapi produksi di CGL 1 Cikarang yang sudah mencapai 500 ribu ton per tahun.
Yang menarik, untuk mewujudkannya, perusahaan menggandeng Tenova asal Italia. Tujuannya jelas: memastikan teknologi yang diterapkan adalah yang terbaik, efisien, dan ramah lingkungan.
“Investasi ini juga menjadi bukti keseriusan kami dalam mendukung transformasi menuju industri hijau dan target net-zero emission, melalui efisiensi energi dan optimalisasi proses produksi,” tambah Stephanus.
Dampaknya diharapkan tak cuma untuk industri. Kehadiran CGL 2 di Purwakarta diyakini akan memberikan efek berganda bagi perekonomian lokal, terutama lewat penciptaan lapangan kerja.
“Ini merupakan bagian dari komitmen investasi lanjutan dari total Rp1,5 triliun, yang akan menambah tenaga kerja sekitar 350 orang. Proyek kami ini merupakan line yang pertama di South East Asia, yang menggunakan teknologi pelapisan zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium, sehingga dapat meningkatkan umur penggunaan baja hingga empat kali,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Paripurna DPR Sahkan Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI
Pengamat Politik: Pengangkatan Thomas Djiwandono di BI Sesuai Koridor dan Beri Nilai Tambah
Hypefast Pacu IPO 2027 dengan Transformasi Menjadi Raksasa Ritel Terintegrasi
Cadangan Baru di Selat Malaka: ENRG Temukan 31 Juta Barel Minyak di Riau