Industri baja nasional punya peran yang krusial. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan hal itu, sekaligus memastikan struktur industrinya terus diperkuat untuk menopang ekonomi dan industrialisasi jangka panjang.
“Industri baja nasional memiliki peran strategis dalam upaya mendukung pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, serta penguatan industri turunan seperti permesinan, otomotif, galangan kapal, dan sektor energi,” kata Agus dalam keterangannya, Selasa (27/1).
Angkanya cukup berbicara. Data Kemenperin menunjukkan, dalam lima tahun terakhir produksi baja nasional melonjak hampir 98,5 persen. Kalau dibandingkan dengan capaian tahun 2019 yang sebesar 8,5 juta ton, pertumbuhannya memang signifikan.
“Ini mencerminkan kapasitas industri baja nasional yang terus tumbuh dan semakin kompetitif,” jelasnya.
Untuk mendorong kinerja itu lebih kencang lagi, pemerintah mengoptimalkan sejumlah kebijakan. Mulai dari penerapan trade remedies, pemberlakuan SNI wajib, fasilitas harga gas tertentu, hingga insentif fiskal dan prinsip industri hijau. Intinya, semua diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan utilisasi industri secara berkelanjutan.
“Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan utilisasi industri baja nasional secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat daya saing produk baja dalam negeri di pasar domestik maupun ekspor,” tutur Agus.
Di sisi lain, komitmen pelaku usaha juga patut diapresiasi. Kemenperin secara khusus menyoroti langkah PT Tata Metal Lestari dan Tatalogam Group yang terus berinvestasi. Pembangunan fasilitas CGL 2 di Purwakarta, misalnya, dinilai sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian industri.
“Kami berharap fasilitas ini dapat beroperasi optimal, berdaya saing, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan penguatan industri dalam negeri,” ujar Direktur Industri Logam Kemenperin, Dodiet Prasetyo, dalam acara ground breaking Senin (26/1).
Optimisme itu punya dasar. Menurut Dodiet, proyek ini akan memperkuat ekosistem dari hulu ke hilir, yang ujung-ujungnya meningkatkan nilai tambah dalam negeri.
“Melalui proyek ini tentu akan meningkatkan daya saing nasional, menciptakan job creation, dan juga pemberdayaan ekonomi lokal,” tambahnya.
Artikel Terkait
Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Tenaga Kerja AS Jadi Penopang Utama
Kopra by Mandiri Pacu Transaksi Rp 26.634 Triliun, Dukung Geliat Ekonomi 2026
PNM Gelar Pelatihan Massal untuk Perempuan Pengusaha di Surabaya
IHSG dan Rupiah Dibuka Lesu di Tengah Sentimen Pasar Asia yang Beragam