Industri Baja Nasional Pacu Ekonomi, Produksi Melonjak Hampir 100%

- Selasa, 27 Januari 2026 | 08:36 WIB
Industri Baja Nasional Pacu Ekonomi, Produksi Melonjak Hampir 100%

Industri baja nasional punya peran yang krusial. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan hal itu, sekaligus memastikan struktur industrinya terus diperkuat untuk menopang ekonomi dan industrialisasi jangka panjang.

“Industri baja nasional memiliki peran strategis dalam upaya mendukung pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, serta penguatan industri turunan seperti permesinan, otomotif, galangan kapal, dan sektor energi,” kata Agus dalam keterangannya, Selasa (27/1).

Angkanya cukup berbicara. Data Kemenperin menunjukkan, dalam lima tahun terakhir produksi baja nasional melonjak hampir 98,5 persen. Kalau dibandingkan dengan capaian tahun 2019 yang sebesar 8,5 juta ton, pertumbuhannya memang signifikan.

“Ini mencerminkan kapasitas industri baja nasional yang terus tumbuh dan semakin kompetitif,” jelasnya.

Untuk mendorong kinerja itu lebih kencang lagi, pemerintah mengoptimalkan sejumlah kebijakan. Mulai dari penerapan trade remedies, pemberlakuan SNI wajib, fasilitas harga gas tertentu, hingga insentif fiskal dan prinsip industri hijau. Intinya, semua diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan utilisasi industri secara berkelanjutan.

“Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan utilisasi industri baja nasional secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat daya saing produk baja dalam negeri di pasar domestik maupun ekspor,” tutur Agus.

Di sisi lain, komitmen pelaku usaha juga patut diapresiasi. Kemenperin secara khusus menyoroti langkah PT Tata Metal Lestari dan Tatalogam Group yang terus berinvestasi. Pembangunan fasilitas CGL 2 di Purwakarta, misalnya, dinilai sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian industri.

“Kami berharap fasilitas ini dapat beroperasi optimal, berdaya saing, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan penguatan industri dalam negeri,” ujar Direktur Industri Logam Kemenperin, Dodiet Prasetyo, dalam acara ground breaking Senin (26/1).

Optimisme itu punya dasar. Menurut Dodiet, proyek ini akan memperkuat ekosistem dari hulu ke hilir, yang ujung-ujungnya meningkatkan nilai tambah dalam negeri.

“Melalui proyek ini tentu akan meningkatkan daya saing nasional, menciptakan job creation, dan juga pemberdayaan ekonomi lokal,” tambahnya.

Stephanus Koeswandi, VP of Operations PT Tata Metal Lestari, punya penjelasan soal pentingnya investasi ini. Menurutnya, CGL 2 adalah bagian dari komitmen memperkuat industri antara atau midstream.

“Industri antara memiliki peran krusial sebagai penghubung antara industri hulu dan hilir. Tanpa sektor ini yang kuat, rantai pasok akan rapuh dan ketergantungan impor terus tinggi,” kata Stephanus.

Perusahaannya saat ini tak cuma mampu memenuhi kebutuhan domestik. Mereka bahkan sudah mengekspor produk baja lapis ke 25 negara, termasuk pasar ketat seperti Amerika Serikat dan Eropa.

“Pembangunan CGL 2 ini merupakan bagian dari peta jalan kami untuk mencapai kapasitas terpasang hingga 2,5 juta ton baja lapis secara bertahap hingga 10 tahun ke depan, sekaligus mendukung program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan menghadirkan produk Made in Indonesia berstandar global,” ungkapnya.

Fasilitas baru ini nantinya akan menambah produksi 250 ribu ton baja lapis per tahun. Angka itu melengkapi produksi di CGL 1 Cikarang yang sudah mencapai 500 ribu ton per tahun.

Yang menarik, untuk mewujudkannya, perusahaan menggandeng Tenova asal Italia. Tujuannya jelas: memastikan teknologi yang diterapkan adalah yang terbaik, efisien, dan ramah lingkungan.

“Investasi ini juga menjadi bukti keseriusan kami dalam mendukung transformasi menuju industri hijau dan target net-zero emission, melalui efisiensi energi dan optimalisasi proses produksi,” tambah Stephanus.

Dampaknya diharapkan tak cuma untuk industri. Kehadiran CGL 2 di Purwakarta diyakini akan memberikan efek berganda bagi perekonomian lokal, terutama lewat penciptaan lapangan kerja.

“Ini merupakan bagian dari komitmen investasi lanjutan dari total Rp1,5 triliun, yang akan menambah tenaga kerja sekitar 350 orang. Proyek kami ini merupakan line yang pertama di South East Asia, yang menggunakan teknologi pelapisan zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium, sehingga dapat meningkatkan umur penggunaan baja hingga empat kali,” pungkasnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar