Dulu, kawasan Kwitang di Jakarta Pusat dikenal sebagai pusat perdagangan valuta asing jalanan yang ramai. Suasana hiruk-pikuk para pedagang atau money changer di tepi jalan itu kini tinggal kenangan. Yang tersisa hanyalah kesepian. Hanya segelintir orang yang masih bertahan, berjibaku di tengah lesunya bisnis ini.
Pada Senin, 26 Januari lalu, suasana di sepanjang Jalan Kwitang Raya terlihat lengang. Dari pantauan langsung, hanya dua pedagang yang masih terlihat membuka lapak. Salah satunya adalah Nana, seorang wanita berusia 58 tahun yang sudah menggeluti usaha valas jalanan sejak 2005. Baginya, ini adalah bisnis turunan keluarga.
"Dulu diajari kakak saya," ujar Nana, mengenang awal mula ia terjun.
Namun begitu, ia mengakui bahwa aktivitas jual belinya sekarang jauh lebih sepi. Bahkan ketika dolar Amerika Serikat menguat, seperti yang terjadi belakangan ini, minat masyarakat untuk menukar uang tidak seperti dulu lagi. Kurs rupiah saat itu, tepatnya pukul 08.57 WIB, berada di angka Rp 16.820 per dolar AS.
"Ya kadang-kadang ada, kadang-kadang enggak. Enggak kayak dulu," ceritanya. "Ya sebut sepi tapi ada saja uang aneh-aneh. Kalau dolarnya bagus berarti rezeki kita, kadang-kadang dolarnya jelek, saya sih terima tapi harganya enggak segitu."
Menurut Nana, justru di situlah kelebihan pedagang pinggiran seperti dirinya. Mereka masih mau menerima uang dolar dalam kondisi fisik yang kurang bagus, meski harganya tentu tak maksimal.
"Yang rusak bisa Rp 14.000 sampai Rp 15.000 per dolar," ujarnya.
Saat ini, Nana mengaku tidak menyetok valas. Modalnya terlalu besar. Ia hanya mengandalkan orang-orang yang datang untuk menjual valas kepadanya. Jenis mata uang yang diterimanya pun beragam, mulai dolar AS, poundsterling, hingga mata uang Timur Tengah.
"Mata uang apa aja yang aneh-aneh, Singapore Dollar, ringgit, euro, dinar Kuwait, rial Oman, apa saja. Karena ada, cuma sekarang sepi," ungkapnya.
Jika ada pembeli yang membutuhkan valas tertentu, ia masih bisa mencarikan. Ia punya supplier yang bisa dihubungi. Sistem bagi hasilnya sederhana.
"Saya telpon dulu, yang penting harga cocok. Ibarat untung Rp 200 ribu, bos supplier dapat Rp 100 ribu, saya juga dapat Rp 100 ribu," jelas Nana.
Bisnis ini penuh risiko, termasuk terpapar uang palsu. Nana mengaku sering menemui orang yang menukarkan dolar palsu, baik yang sengaja maupun yang tidak tahu. Pengalaman bertahun-tahun membuatnya paham cara membedakannya.
"Banyak sekali. Kita sendiri was-was, tapi ngerti lah caranya. Kita kan punya HP untuk cek," cerita Nana.
Di tengah sepinya transaksi valas, Nana harus mencari cara bertahan. Kini, ia membuka warung kopi dan rokok sebagai sampingan. Hidup harus terus berjalan.
Di lokasi yang tidak jauh, ada Rohadi (55) yang juga merasakan hal serupa. Pria yang berjualan di Kwitang sejak 1998 ini mengeluhkan hal yang sama: sepi.
"Wah jarang. Paling ke money changer resmi mereka," keluh Rohadi. "Dulu ramai sekali di sini, setiap 10 meter ada pedagang. Sekarang tinggal bertiga."
Sama seperti Nana, Rohadi kini hanya melayani penjualan valas dari masyarakat. Ia tak punya stok untuk dijual kembali.
"Cuma beli aja. Kalau ada yang mau beli dari saya, mah enggak ada barangnya," katanya. "Untuk dolar sobek, harganya tergantung. Kalau sobeknya 50 persen, paling dapat Rp 8.000-an per dolar."
Dari semua jenis valas, dolar AS masih yang paling banyak ditukar orang. Dan seperti Nana, Rohadi juga kerap jadi sasaran penukaran uang palsu.
"Sering. Pemeriksaannya cuma manual doang. Sudah ngerti sih bedainnya, tapi ya kebobolan juga kadang," akunya.
Transaksi terbesar yang pernah ditanganinya mencapai 5.500 dolar AS. Tapi tak sedikit juga yang hanya menukar 10 dolar. Untuk menyambung hidup, Rohadi punya cara yang mirip dengan Nana.
Kini, ia juga berjualan kopi seduh. "Kalau ngandelin dolar doang, mah parah," tutup Rohadi dengan senyum getir.
Artikel Terkait
Wall Street Melemah di Awal Pekan, Investor Tunggu Laporan Keuangan Raksasa Teknologi dan Perkembangan Negosiasi AS-Iran
Garuda Metalindo Bagikan Dividen Rp117,2 Miliar, Setara 88,63% Laba Bersih 2025
Garudafood Bagikan Dividen Rp350 Miliar, Rp9,5 per Saham
OJK Ungkap Data Konsentrasi Kepemilikan Saham Jadi Acuan MSCI Keluarkan Emiten dari Indeks