Hari ini, Senin (26/1), Thomas Djiwandono bakal menghadapi uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR. Pria yang biasa disapa Tommy itu digadang-gadang akan jadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Jadwalnya ketat: sesinya berlangsung pukul 16.00 sampai 17.00 WIB.
Sebelumnya, Dicky Kartikoyono sudah lebih dulu diuji dari pukul 14.00. Sementara Solihin M. Juhro menjalani proses serupa pada Jumat lalu. Menurut rencana, hasil dari seluruh tes ini akan diumumkan langsung oleh Komisi XI di hari yang sama. Cukup singkat, memang.
Nama Tommy diusulkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Dia satu dari tiga nama yang digulirkan untuk mengisi posisi penting di bank sentral itu. Proses fit and proper test ini, tentu saja, jadi gerbang terakhir sebelum DPR memberi lampu hijau.
Di sisi lain, wacana perpindahannya dari Kementerian Keuangan ke BI ternyata disambut baik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa punya pandangan menarik soal ini.
“Tanggapan saya gimana? Ya baguslah, biar Pak Thomas punya pengalaman lebih luas lagi. Sudah di fiskal, sekarang kalau masuk kan ke moneter, kan bagus. Saya mendukung,”
ujarnya kepada para wartawan di Kompleks Parlemen, Senin lalu. Menurutnya, langkah ini justru bisa memperkaya perspektif Tommy, sekaligus menjembatani kebijakan fiskal dan moneter yang selama ini harus berjalan beriringan.
Lalu, siapa sebenarnya Thomas Djiwandono?
Lahir di Jakarta, 7 Mei 1972, Tommy adalah putra sulung Soedradjad Djiwandono mantan Gubernur BI yang kini mengajar di Singapura dan Biantiningsih Miderawati. Dari garis ibunya, dia punya hubungan keluarga dengan Presiden Prabowo Subianto. Ibunya adalah kakak kandung Prabowo, putri dari R.M. Margono Djojohadikusumo, sang pendiri Bank BNI 45. Tommy juga kakak dari Budisatrio Djiwandono yang kini duduk di Komisi IV DPR.
Pendidikannya cukup mentereng. Gelar sarjana sejarah dia raih dari Haverford College di Pennsylvania, AS. Lalu, dia melanjutkan studi magister di Johns Hopkins University, Washington, dengan fokus hubungan internasional dan ekonomi.
Jalur kariernya tak melulu di birokrasi. Awalnya, Tommy malah terjun ke dunia jurnalistik. Dia pernah magang di Majalah Tempo pada 1993, lalu menjadi wartawan Indonesia Business Weekly setahun setelahnya. Dunia keuangan kemudian menariknya untuk bekerja sebagai analis di Hong Kong.
Baru pada 2006, dia masuk ke korporasi sebagai Deputy CEO Arsari Group. Di ranah politik, Tommy pernah mencoba peruntungannya dengan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari Kalimantan Barat. Keterikatannya dengan Partai Gerindra cukup dalam; dia pernah mendampingi Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014 dan menjabat sebagai Bendahara Umum partai.
Puncaknya, pada Juli 2024, Tommy resmi diangkat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Posisi itu dipertahankannya bahkan setelah peralihan kabinet ke Kabinet Merah Putih pada Oktober 2025. Kini, dengan tiga anak di rumah, langkahnya menuju BI tinggal menunggu keputusan akhir para wakil rakyat di Senayan.
Artikel Terkait
Mayapada Hospital Luncurkan Teknologi Kedokteran Nuklir untuk Tingkatkan Presisi Perawatan Kanker
Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 26 Juta, IHSG Justru Terkoreksi 6,6% dalam Sepekan
BEI Luncurkan Kampanye ‘Aku Net-Zero Hero’ di Hari Bumi, Dorong Partisipasi Publik dalam Perdagangan Karbon
Pekan Terakhir April 2026: Tiga Faktor Global Picu Ketegangan Pasar Minyak dan Emas