Istanbul, Turki Dari balik keriuhan Forum Diplomasi Antalya, sebuah pengumuman penting dilontarkan. Organisasi Kerja Sama Ekonomi Delapan Negara Berkembang, atau D-8, berencana membentuk Sekretariat Permanen untuk Kamar Dagang dan Industri mereka. Ini bukan sekadar penambahan kantor baru. Lebih dari itu, langkah ini disebut-sebut bakal jadi pilar pendorong integrasi ekonomi sektor swasta antar negara anggota.
Rencananya, sekretariat itu akan bermarkas di Istanbul. Kota yang punya nilai historis dan strategis buat D-8 ini dipilih bukan tanpa alasan. Visi awal organisasi yang digagas mendiang Perdana Menteri Turkiye, Necmettin Erbakan, di tahun 1997, konon masih jadi kompas hingga sekarang.
Sekjen D-8, Sohail Mahmood, yang menyampaikan kabar ini, bilang kehadiran sekretariat permanen bakal memberi arah lebih fokus untuk kolaborasi bisnis lintas batas.
“Langkah ini tidak hanya memperkokoh fondasi kelembagaan D-8, tetapi juga memberikan mandat khusus bagi sektor swasta untuk memimpin upaya pemulihan dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya kepada Anadolu.
Aliansi yang beranggotakan Turkiye, Indonesia, Pakistan, Iran, Bangladesh, Malaysia, Nigeria, dan Mesir ini memang dari sananya dibentuk buat jawab tantangan di dunia Muslim lewat kerja sama ekonomi yang nyata.
Namun begitu, Mahmood juga angkat bicara soal situasi global yang makin panas. Dengan lebih dari 50 konflik bersenjata aktif berlangsung di berbagai penjuru, dampaknya terhadap stabilitas dan kemanusiaan dinilainya sangat sistemik. Ia pun menekankan urgensi diplomasi.
Ia memberi apresiasi pada upaya-upaya damai, seperti peran Islamabad yang memfasilitasi dialog antara AS dan Iran.
“Kami menyambut baik setiap upaya penyelesaian damai. Ketika konflik meluas, kebutuhan akan solusi diplomatik menjadi semakin mendesak,” tambahnya.
Di sisi lain, forum tempat pengumuman ini disampaikan juga dapat pujian. Forum Diplomasi Antalya dinilai telah bertransformasi jadi pusat perhatian diplomatik dunia. Platform yang krusial, katanya, bagi para pemimpin untuk menyelaraskan agenda mereka baik bilateral maupun internasional di bawah satu atap.
Jadi, selain urusan dagang, pesan perdamaian juga mengemuka. Dua hal yang, dalam pandangan D-8, harus berjalan beriringan di tengah dinamika dunia yang tak pernah benar-benar tenang.
Artikel Terkait
Ketua Golkar Maluku Tenggara Tewas Ditikam di Bandara, Dua Pelaku Ditangkap
Tentara Prancis Gugur dalam Serangan terhadap Patroli UNIFIL di Lebanon Selatan
KPK Ungkap Motif Pribadi dan Biaya Politik Jadi Pemicu Korupsi Kepala Daerah
Trump Kirim Utusan ke Islamabad untuk Negosiasi dengan Iran