Wall Street menutup sesi Jumat lalu dengan catatan yang beragam. Sentimen pasar tampak terbelah, didorong terutama oleh prospek suram dari raksasa chip Intel yang membuat banyak investor menarik napas panjang.
Dow Jones Industrial Average akhirnya tergelincir 285,3 poin, atau sekitar 0,58%, ke level 49.098,71. Namun begitu, S&P 500 justru bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,03%. Nasdaq Composite pun ikut menguat, naik 0,28% ke posisi 23.501,24.
Tapi, penguatan di akhir pekan itu nyatanya tak cukup. Secara keseluruhan, pekan lalu tetap berakhir negatif untuk ketiga indeks utama. S&P 5 turun 0,36%, Dow melemah 0,53%, dan Nasdaq sedikit terpangkas 0,06%.
Penyebab utama tekanan itu jelas: Intel. Saham produsen chip itu terjun bebas 17% dalam satu hari. Pemicunya? Proyeksi pendapatan dan laba kuartalan mereka jauh di bawah harapan pasar. Rupanya, Intel kesulitan memenuhi permintaan chip server untuk pusat data AI, sehingga prospeknya langsung suram.
Meski berita dari Intel begitu mengecewakan, bukan berarti semua gelap. Beberapa saham big tech justru menunjukkan ketahanan. Microsoft, Meta, dan Amazon malah naik antara 1,7% hingga 3,3%. Nvidia juga menguat 1,5%, didorong kabar bahwa perusahaan-perusahaan teknologi China seperti Alibaba diizinkan memesan chip AI terbarunya.
Menurut Julian McManus, manajer portofolio di Global Alpha Equity, situasi ini justru mempertegas batas antara pemenang dan yang tertinggal di tengah demam AI.
Artikel Terkait
Setelah Terjun Bebas, Saham BCA Bangkit di Akhir Sesi dengan Volume Fantastis
Emas Tembus USD 5.000, Investor Berlarian ke Safe Haven
Saham AIMS dan GRPM Kembali Menggelinding, Satu Diantaranya Masuk Papan Khusus
Thomas Djiwandono Hadapi Uji Kelayakan, Calon Deputi Gubernur BI dari Keluarga Elite