Intel Tersungkur, Wall Street Berakhir dengan Catatan Terbelah

- Senin, 26 Januari 2026 | 07:00 WIB
Intel Tersungkur, Wall Street Berakhir dengan Catatan Terbelah

Wall Street menutup sesi Jumat lalu dengan catatan yang beragam. Sentimen pasar tampak terbelah, didorong terutama oleh prospek suram dari raksasa chip Intel yang membuat banyak investor menarik napas panjang.

Dow Jones Industrial Average akhirnya tergelincir 285,3 poin, atau sekitar 0,58%, ke level 49.098,71. Namun begitu, S&P 500 justru bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,03%. Nasdaq Composite pun ikut menguat, naik 0,28% ke posisi 23.501,24.

Tapi, penguatan di akhir pekan itu nyatanya tak cukup. Secara keseluruhan, pekan lalu tetap berakhir negatif untuk ketiga indeks utama. S&P 5 turun 0,36%, Dow melemah 0,53%, dan Nasdaq sedikit terpangkas 0,06%.

Penyebab utama tekanan itu jelas: Intel. Saham produsen chip itu terjun bebas 17% dalam satu hari. Pemicunya? Proyeksi pendapatan dan laba kuartalan mereka jauh di bawah harapan pasar. Rupanya, Intel kesulitan memenuhi permintaan chip server untuk pusat data AI, sehingga prospeknya langsung suram.

Meski berita dari Intel begitu mengecewakan, bukan berarti semua gelap. Beberapa saham big tech justru menunjukkan ketahanan. Microsoft, Meta, dan Amazon malah naik antara 1,7% hingga 3,3%. Nvidia juga menguat 1,5%, didorong kabar bahwa perusahaan-perusahaan teknologi China seperti Alibaba diizinkan memesan chip AI terbarunya.

Menurut Julian McManus, manajer portofolio di Global Alpha Equity, situasi ini justru mempertegas batas antara pemenang dan yang tertinggal di tengah demam AI.

"Kita sekarang masuk ke periode 'show-me'," ujarnya.

"Perusahaan harus benar-benar membuktikan pertumbuhan pendapatannya untuk membenarkan harga saham yang melonjak. Dan sayangnya, dari yang saya lihat, Intel tidak termasuk dalam kelompok yang berhasil."

Di sisi lain, pergerakan sektor juga menarik diamati. Dari 11 sektor di S&P 500, tujuh di antaranya ditutup menguat. Sektor material memimpin dengan kenaikan 0,9%. Sementara energi, yang naik 0,6%, bahkan berhasil mencetak rekor penutupan tertinggi untuk hari ketiga berturut-turut. Sektor ini pula yang jadi bintang pekan lalu, dengan keuntungan mingguan yang solid.

Volume perdagangan pada Jumat itu terbilang padat, mencapai 17,34 miliar saham. Angka ini sedikit lebih tinggi dari rata-rata 20 hari terakhir.

Nah, pekan ini perhatian akan beralih ke laporan keuangan para raksasa teknologi. Beberapa nama besar seperti Apple, Tesla, dan Microsoft dari kelompok "Magnificent Seven" akan mengumumkan hasil kinerjanya. Semua mata kini tertuju pada mereka, menunggu apakah laporannya bisa mengembalikan optimisme atau justru menambah ketidakpastian.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar