Gen Z Pilih Kepuasan Kerja, Gaji Tinggi Bukan Lagi Prioritas Utama

- Jumat, 23 Januari 2026 | 21:06 WIB
Gen Z Pilih Kepuasan Kerja, Gaji Tinggi Bukan Lagi Prioritas Utama

Generasi Z melangkah ke dunia kerja di tengah situasi yang serba tak pasti. Pandemi, gejolak ekonomi, semuanya mereka alami. Jadi wajar kalau cara pandang mereka terhadap pekerjaan pun berbeda. Dulu, gaji tinggi dan posisi yang stabil mungkin jadi impian utama. Tapi sekarang? Tampaknya ada hal lain yang lebih menarik perhatian Gen Z selain sekadar angka di slip gaji.

Karakteristik Gen Z: Bukan Cuma Melek Teknologi

Ya, mereka memang generasi digital native. Tapi jangan salah, mereka juga generasi yang sangat sadar akan tekanan mental dan arti kualitas hidup. Bagi banyak dari mereka, pekerjaan bukan cuma urusan cari uang. Pekerjaan adalah bagian dari identitas diri dan kesejahteraan hidup secara keseluruhan. Ini yang membedakan mereka dari generasi-generasi sebelumnya.

Menurut sebuah riset terbaru dari Unstop sebuah platform yang fokus pada talenta muda aspirasi ini bukan sekadar omongan. Survei mereka yang melibatkan ribuan pekerja Gen Z dan ratusan profesional HR mengungkap sesuatu yang menarik: gaji tinggi ternyata bukan lagi penanda utama sebuah pekerjaan yang dianggap bernilai.

Lalu, Apa yang Mereka Cari?

Data dari laporan "Gen Z at Workplace" itu cukup jelas menggambarkan pergeseran nilai ini. Hampir tiga perempat responden (72%) bilang kepuasan kerja lebih penting daripada gaji tinggi. Bahkan, 77% lebih memilih perusahaan yang menawarkan peluang berkembang ketimbang kompensasi finansial besar-besaran.

Yang juga mencolok, hampir setengahnya (47%) menjadikan keseimbangan kerja dan hidup sebagai prioritas saat menilai tawaran kerja. Angka yang sama juga mengaku berencana pindah kerja dalam dua tahun ke depan biasanya demi mencari pengalaman kerja yang lebih bermakna.

Intinya, gaji tetap penting, tapi posisinya sudah tergeser. Elemen-elemen seperti kepuasan, kesempatan belajar, dan ruang untuk hidup di luar kantor kini jadi pertimbangan sentral.

Akar Perubahan Prioritas Ini

Kenapa bisa begini? Pertama, pengalaman hidup mereka membentuk perspektif yang unik. Mereka menyaksikan langsung bagaimana pandemi dan resesi mengguncang dunia kerja. Pekerjaan yang tampak "aman" pun bisa lenyap dalam sekejap. Pengalaman pahit itu membuat mereka lebih kritis: mereka ingin pekerjaan yang benar-benar meningkatkan kualitas hidup, bukan sekadar mengisi rekening.


Halaman:

Komentar