Pertanyaan "saham GOLF milik siapa?" mungkin sedang berkeliaran di benak sejumlah investor. Soalnya, saham emiten dengan kode GOLF ini lagi panas. PT Intra GolfLink Resorts Tbk, begitulah nama lengkapnya, bergerak di seputar pengelolaan lapangan golf dan pengembangan properti mewah pendukungnya.
Perdagangan Jumat (22/1/2026) pagi tadi, sahamnya memang melemah 5,45 persen ke level Rp382. Tapi jangan salah, nilai transaksinya justru masuk jajaran terbesar hari ini, tembus Rp60,76 miliar. Artinya, minat terhadap saham ini tetap tinggi.
Kalau dilihat dari kinerja harganya, GOLF memang sedang jaya-jayanya. Dalam sebulan terakhir, sahamnya melonjak fantastis, 75,23 persen! Bahkan hanya dalam seminggu, kenaikannya sudah mencapai 43,61 persen. Pergerakan yang cukup menggoda sekaligus membuat penasaran.
Lalu, siapa sebenarnya di balik perusahaan ini?
Berdiri sejak 2005 dengan nama awal PT Dreamland Pecatu Golf, perusahaan ini cukup cepat berganti nama menjadi Intra GolfLink Resorts. Dua tahun setelah berdiri, mereka mulai mengoperasikan lapangan golf pertama seluas 85 hektar di kawasan Pecatu, Bali.
Ekspansi terus berlanjut. Pada 2010, giliran Sentul, Bogor, yang mendapat sentuhan lewat lapangan golf Palm Hill seluas 94 hektar. Enam tahun berselang, Belitung pun tak ketinggalan. Lewat anak perusahaannya, GOLF membuka lapangan golf di Tanjung Tinggi seluas 73 hektar.
Tak cuma golf, mereka juga merambah ke hunian mewah. Di tahun 2021, perseroan mengembangkan kawasan residensial seluas 76 hektar di Sentul. Jadi, saat ini portofolio mereka terdiri dari tiga lapangan golf andalan: Palm Hill Golf di Sentul, New Kuta Golf di Bali, dan Black Rocks Hotel & Golf di Belitung. Total lahannya mencapai 244,5 hektar. Semua bisnis itu dijalankan oleh dua anak perusahaan dan satu entitas asosiasi.
Artikel Terkait
UKM Bisa Kuasai Tambang, Ini Syarat Jalur Prioritasnya
Agrinas Palma Cetak Laba Rp 1,6 Triliun di Tahun Pertama
Bank Mandiri Pacu Ekonomi Desa Lewat Kucuran Rp74,9 Triliun untuk UMKM
Pertamina Geothermal Rebut Proyek Panas Bumi 77 MW di Sumatera Barat