Skema pembiayaan proyek seperti ini dinilai cocok untuk bisnis energi surya, yang memang butuh investasi aset jangka panjang. Jadi, bukan hanya perusahaan besar, sektor bisnis menengah pun punya peluang untuk mulai beralih ke operasi yang lebih ramah lingkungan.
Angkanya pun cukup berbicara. Hingga akhir September 2025, NISP tercatat sudah menyalurkan pembiayaan berkelanjutan senilai Rp34,69 triliun. Yang menarik, hampir separuhnya tepatnya 44 persen merupakan green financing atau pembiayaan hijau.
Namun begitu, komitmen mereka tak berhenti di situ. NISP meyakini, penerapan prinsip ESG (environmental, social, and governance) bakal membawa dampak positif jangka panjang. Mereka berusaha mengintegrasikan prinsip-prinsip ini ke dalam seluruh operasionalnya, sebagai bagian dari jalan menuju target Net Zero Emissions.
Jadi, lewat pembiayaan ini, ada dua hal yang coba didorong: percepatan proyek energi bersih dan penguatan struktur pendanaan untuk masa depan yang lebih hijau.
Artikel Terkait
UKM Bisa Kuasai Tambang, Ini Syarat Jalur Prioritasnya
Agrinas Palma Cetak Laba Rp 1,6 Triliun di Tahun Pertama
Bank Mandiri Pacu Ekonomi Desa Lewat Kucuran Rp74,9 Triliun untuk UMKM
Pertamina Geothermal Rebut Proyek Panas Bumi 77 MW di Sumatera Barat