“Kami melihat aksi jual yang sangat luas dan emosional,” kata seorang analis pasar seperti dikutip Reuters. “Investor sepertinya trauma dengan isu tarif yang kembali menghantui.”
Ancaman Trump itu sederhana tapi berdampak besar: tarif impor tambahan 10% untuk sejumlah negara Eropa, mulai 1 Februari. Negara-negara seperti Jerman, Prancis, dan Inggris kembali jadi sasaran. Bahkan, tarif itu bisa melonjak jadi 25% pada Juni nanti jika AS tidak bisa membeli Greenland sebuah pulau yang secara tegas sudah ditolak untuk dijual oleh pemerintah Denmark dan Greenland sendiri.
Pernyataan Trump di akhir pekan itu ibarat menyulut bensin di tumpukan jerami. Pasar langsung panik, mengingatkan semua orang pada “Hari Pembebasan” April lalu, ketika perang dagang hampir menjerumuskan S&P 500 ke wilayah bear market.
Aksi jual ini begitu menyeluruh, mendorong investor mencari tempat aman. Emas meroket ke rekor tertinggi baru. Di sisi lain, obligasi pemerintah AS juga dijual, mendorong biaya utang naik. Uniknya, Bitcoin yang kerap dianggap ‘safe haven’ alternatif justru ikut terperosok lebih dari 3%. Rasanya, tidak ada tempat yang benar-benar aman saat ketakutan seperti ini melanda.
Intinya, perdagangan Selasa waktu AS adalah panggung bagi investor untuk meluapkan kekhawatiran mereka. Kekhawatiran bahwa perang dagang, momok yang sempat mereda, ternyata belum benar-benar berakhir. Dan pasar membalasnya dengan warna merah menyala di mana-mana.
Artikel Terkait
Rayuan Investasi Bodong Berevolusi: Dari Janji Pasti Kaya ke Pamer Kemewahan di Medsos
Roda Vivatex Cairkan Dividen Rp200 per Saham, Sentimen Dorong Harga
Listrik Gratis 6 Bulan untuk Korban Banjir di Huntara Aceh dan Sumatera
Dasco Buka Suara: Usulan Tommy Djiwandono ke BI Berasal dari Perry Warjiyo