Pub adalah jantungnya banyak komunitas di Inggris, tempat orang berkumpul dan bersosialisasi. Tapi sekarang, tempat ikonik ini sedang terdesak. Biaya hidup yang melambung, tren hidup sehat di kalangan anak muda yang menghindari alkohol, dan persaingan sengit dengan ritel besar membuat masa depan banyak pub suram.
Data terbaru mengonfirmasi tren ini. Menurut riset dari IWSR yang dilansir Financial Times, konsumsi alkohol rata-rata orang dewasa Inggris turun ke level terendah sejak 1990. Pada 2024, angkanya hanya 10,2 minuman beralkohol per minggu. Padahal, dua puluh tahun silam, mereka bisa menghabiskan 14 minuman per minggu.
Marten Lodewijks, Presiden IWSR, punya penjelasannya.
"Populasinya menua. Secara alami, konsumen yang lebih tua tak lagi sanggup minum sebanyak masa mudanya," ujarnya seperti dikutip The Guardian.
"Ditambah lagi, kesadaran akan kesehatan makin tinggi. Biaya hidup juga naik, sehingga orang tak lagi punya kemampuan finansial untuk sering-sering minum di luar," lanjut Lodewijks.
Namun begitu, masalahnya tak cuma soal perubahan gaya hidup. Persaingan harga dengan supermarket jadi pukulan telak. Analisis Bloomberg menunjukkan, harga segelas bir di pub telah melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding harga bir lager serupa di rak supermarket. Jurangnya kian melebar karena pub harus menanggung berbagai biaya tambahan yang tidak dirasakan oleh ritel besar.
Tim Martin, pendiri jaringan pub JD Wetherspoon, geram dengan ketidakadilan ini. Ia menyoroti fakta bahwa supermarket tak dikenai pajak penjualan untuk banyak produk makanan.
"Subsidi semacam itu memungkinkan supermarket menjual bir dengan harga yang sangat murah, nyaris mendekati harga pokok. Mereka bisa menutup margin tipis dari bir dengan keuntungan dari penjualan makanan," katanya kepada Bloomberg.
"Intinya sederhana: apakah parlemen dan publik masih menghargai pub? Kalau iya, mustahil pub dibebani rezim pajak yang jauh lebih berat ketimbang supermarket," tegas Martin.
Angkanya mencengangkan. Dalam 15 tahun terakhir, harga bir premium per 100 ml di pub melonjak hampir 70%, jadi sekitar 0,92 poundsterling. Sementara di toko, kenaikannya hanya 40% menjadi 0,43 poundsterling. Artinya, jika dibandingkan dengan 2010, harga bir di pub sekarang rata-rata 112% lebih mahal.
Pemerintah sebenarnya sudah berjanji akan bertindak. Menteri Keuangan Rachel Reeves berkomitmen meringankan beban tarif bisnis yang dianggap banyak pemilik pub sebagai ancaman eksistensial. Sayangnya, detail bantuannya masih mengambang.
Clive Watson, yang mengepalai sejumlah grup pub, mengeluhkan ketimpangan yang mereka hadapi dari berbagai sisi.
"Kami bayar tarif bisnis lebih tinggi, tagihan energi lebih besar karena operasional kami padat energi, dan biaya tenaga kerja pun membengkak. Kami juga tak bisa menjadikan bir sebagai produk 'pemikat' dengan harga miring, karena minuman adalah core business kami," jelasnya.
"Sektor pub terus dipukul oleh kebijakan pemerintah. Satu-satunya cara bertahan ya menaikkan harga," keluhnya.
Tekanan kian menjadi. Pekan lalu, pejabat menyatakan lebih dari 5.000 pub akan menghadapi kenaikan nilai pajak properti yang berlipat ganda. Secara keseluruhan, sektor ini menanggung kenaikan rata-rata 32% dibanding 2023.
Julian Apperley, pemilik pub independen The Hare di London Timur, menyoroti absurditas perbedaan perlakuan pajak ini.
"Bagaimana saya bisa bersaing kalau menjual produk yang sama, tapi lawan saya tidak dikenai pajak yang setara?" tanyanya.
Margin yang dihadapi pemilik pub memang tipis sekali. Asosiasi Bir dan Pub Inggris memperkirakan, keuntungan bersih rata-rata hanya sekitar 0,12 poundsterling per pint, padahal harga jualnya bisa mencapai 5,01 poundsterling. Emma McClarkin, CEO asosiasi, menambahkan bahwa beban ini diperberat oleh kenaikan iuran asuransi nasional, upah minimum, dan energi.
"Ada sinyal bahwa pemerintah mulai mendengarkan. Kami terus berkampanye untuk keringanan tarif khusus pub sebesar 30%, yang bisa sedikit meringankan tekanan pada margin yang sudah sangat ketat ini," papar McClarkin.
Dampaknya terasa di tingkat akar rumput. Kenaikan harga tak hanya menggerus bisnis, tapi juga menggeser kebiasaan sosial. Orang-orang mulai memilih untuk berkumpul dan minum di rumah.
"Harga jelas jadi pertimbangan utama," aku Kira Strulieva, seorang mahasiswa asal Ukraina yang tinggal di London.
Meski begitu, bagi banyak orang, suasana pub tak tergantikan. Empat botol bir dari supermarket mungkin lebih murah, tapi tak akan pernah bisa menyaingi atmosfer dan fungsi pub sebagai ruang komunitas.
"Minum di rumah? Rasanya tidak semeriah dan seseru itu," ujar Kate Brownsen, warga berusia 28 tahun.
Nostalgia dan kenyataan kini beradu. Masa depan pub-pub Inggris tergantung pada apakah mereka masih dipandang sebagai institusi sosial yang layak diselamatkan, atau sekadar bisnis biasa yang harus tunduk pada hukum pasar.
Artikel Terkait
Menkeu Tegaskan PPN Jalan Tol Belum Diterapkan, Tunggu Pemulihan Ekonomi
MINE Klaim Operasional Tak Terdampak Pemangkasan RKAB Nikel 2026
Wall Street Menguat Didorong Perpanjangan Gencatan Senjata AS-Iran
Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Modal, BI Catat Pemulihan di Kuartal II-2026