"Kami bayar tarif bisnis lebih tinggi, tagihan energi lebih besar karena operasional kami padat energi, dan biaya tenaga kerja pun membengkak. Kami juga tak bisa menjadikan bir sebagai produk 'pemikat' dengan harga miring, karena minuman adalah core business kami," jelasnya.
"Sektor pub terus dipukul oleh kebijakan pemerintah. Satu-satunya cara bertahan ya menaikkan harga," keluhnya.
Tekanan kian menjadi. Pekan lalu, pejabat menyatakan lebih dari 5.000 pub akan menghadapi kenaikan nilai pajak properti yang berlipat ganda. Secara keseluruhan, sektor ini menanggung kenaikan rata-rata 32% dibanding 2023.
Julian Apperley, pemilik pub independen The Hare di London Timur, menyoroti absurditas perbedaan perlakuan pajak ini.
"Bagaimana saya bisa bersaing kalau menjual produk yang sama, tapi lawan saya tidak dikenai pajak yang setara?" tanyanya.
Margin yang dihadapi pemilik pub memang tipis sekali. Asosiasi Bir dan Pub Inggris memperkirakan, keuntungan bersih rata-rata hanya sekitar 0,12 poundsterling per pint, padahal harga jualnya bisa mencapai 5,01 poundsterling. Emma McClarkin, CEO asosiasi, menambahkan bahwa beban ini diperberat oleh kenaikan iuran asuransi nasional, upah minimum, dan energi.
"Ada sinyal bahwa pemerintah mulai mendengarkan. Kami terus berkampanye untuk keringanan tarif khusus pub sebesar 30%, yang bisa sedikit meringankan tekanan pada margin yang sudah sangat ketat ini," papar McClarkin.
Dampaknya terasa di tingkat akar rumput. Kenaikan harga tak hanya menggerus bisnis, tapi juga menggeser kebiasaan sosial. Orang-orang mulai memilih untuk berkumpul dan minum di rumah.
"Harga jelas jadi pertimbangan utama," aku Kira Strulieva, seorang mahasiswa asal Ukraina yang tinggal di London.
Meski begitu, bagi banyak orang, suasana pub tak tergantikan. Empat botol bir dari supermarket mungkin lebih murah, tapi tak akan pernah bisa menyaingi atmosfer dan fungsi pub sebagai ruang komunitas.
"Minum di rumah? Rasanya tidak semeriah dan seseru itu," ujar Kate Brownsen, warga berusia 28 tahun.
Nostalgia dan kenyataan kini beradu. Masa depan pub-pub Inggris tergantung pada apakah mereka masih dipandang sebagai institusi sosial yang layak diselamatkan, atau sekadar bisnis biasa yang harus tunduk pada hukum pasar.
Artikel Terkait
Dua Menteri Godok Strategi Dana untuk Infrastruktur dan Penanganan Bencana
POSCO International Tawar Rp4,93 Triliun untuk Kuasai Saham Prime Agri Resources
JMA Syariah Tak Perlu Khawatir, Modal Rp127 Miliar Sudah Lampaui Batas OJK
Rupiah Terseret Isu Greenland dan Tarif Trump, IMF Justra Naikkan Proyeksi RI