IHSG Cetak Rekor Lagi, Rupiah Justru Tergelincir ke Level Terendah Sepanjang Masa

- Selasa, 20 Januari 2026 | 11:15 WIB
IHSG Cetak Rekor Lagi, Rupiah Justru Tergelincir ke Level Terendah Sepanjang Masa

IHSG lagi-lagi memecahkan rekor. Pagi tadi, Selasa (20/1/2026), indeks acuan saham kita sempat menyentuh level 9.174,47. Angka itu mengalahkan rekor tertinggi yang baru saja dicetak sehari sebelumnya. Trennya memang terus naik, dan ini menarik perhatian banyak pihak.

Menurut pengamat pasar modal Michael Yeoh, penguatan kali ini punya cerita yang sedikit berbeda. "Jika kita perhatikan, kinerja IHSG saat ini tidak hanya terdongkrak oleh saham-saham konglo saja," ujarnya.

Ia menjelaskan, beberapa waktu ke belakang ada aliran dana yang cukup baik ke sektor perbankan. Padahal, sektor ini punya porsi bobot terbesar di IHSG.

"Empat big banks ini tidak mencetak new low lagi," tambah Michael. Pergerakan saham perbankan besar mulai stabil, dan itu jadi sinyal positif.

Di sisi lain, minat investor asing ternyata juga konsisten. Mereka tak cuma fokus ke perbankan, tapi juga mengalirkan dananya ke saham-saham berkapitalisasi besar lain.

"ASII serta TLKM juga rutin mendapat inflow dari foreign. Ini yang mengakibatkan kenaikan IHSG belakangan yang terus mencetak all-time high," jelasnya.

Yang menarik, semua ini terjadi di tengah sentimen domestik yang sebenarnya belum sepenuhnya solid. Rupiah masih melemah terhadap dolar AS, misalnya. Namun begitu, Michael melihat aksi asing ini justru memberikan gambaran tersendiri tentang outlook ekonomi Indonesia di mata dunia.

Fakta di lapangan pun menunjukkan ketangguhan IHSG. Di saat pasar global bergejolak karena sentimen geopolitik, indeks kita justru ditutup menguat 0,64 persen ke level 9.133,87 pada perdagangan Senin. Rekor baru lagi.

Lalu, ke mana arahnya nanti? Analis KB Valbury Sekuritas mencatat, fokus pasar pekan ini akan tertuju pada sejumlah rilis data makro. Mulai dari pertumbuhan kredit, keputusan suku bunga BI, sampai perkembangan jumlah uang beredar. Itu semua bakal jadi penentu mood pasar.

Sementara itu, tim analis BRI Danareksa Sekuritas memberi catatan menarik. Mereka bilang, rekor IHSG ini tercapai meski investor asing masih mencatatkan net sell senilai Rp542 miliar di pasar reguler. Artinya, penguatan ini ditopang kuat oleh permintaan domestik. Ketahanan yang patut diacungi jempol di tengah ketidakpastian global.

Secara teknikal, mereka melihat IHSG berpeluang melanjutkan penguatan, walau terbatas, untuk menguji level resistance di 9.150.

Pasar juga sedang menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. BI Rate diproyeksikan akan dipertahankan di level 4,75 persen, meski ada tekanan dari pelemahan rupiah. Katalis lain diperkirakan bakal datang dari kebijakan pemerintah, terutama di sektor-sektor seperti tekstil, komoditas, waste to energy, dan perbankan. Sektor-sektor itu berpotensi jadi tema panas pergerakan saham ke depan.

Rupiah Justru di Ujung Lain

Namun, cerita untuk rupiah sama sekali berbeda. Sementara IHSG meroket, nilai tukar rupiah malah mencetak rekor terendah terhadap dolar AS pada hari yang sama. Sentimen negatif muncul menyusul kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral.

Pemicunya adalah nominasi keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono, untuk bergabung dalam Dewan Gubernur BI. Rupiah melemah hingga menyentuh level Rp16.985 per dolar AS, tepat sebelum keputusan kebijakan moneter BI diumumkan.

Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah berlangsung. Sepanjang Januari saja, mata uang kita tertekan hampir 2 persen. Ini melanjutkan penurunan 3,5 persen yang terjadi sepanjang tahun 2025.

Juru bicara presiden, Prasetyo Hadi, telah mengonfirmasi bahwa Thomas Djiwandono, yang kini menjabat wakil menteri keuangan, adalah salah satu dari tiga nama yang diajukan ke parlemen.

Menurut Daniel Tan, Manajer Portofolio Grasshopper Asset Management, penunjukan ini menambah kekhawatiran yang sudah ada. "Penunjukan keponakan Prabowo menambah kekhawatiran yang sudah ada bahwa batas defisit anggaran Indonesia berpotensi dinaikkan," ujarnya.

Ia menambahkan, langkah terbaru ini memicu keraguan lebih lanjut terhadap independensi BI. Kekhawatiran itu, ditambah bayang-bayang persoalan defisit fiskal, akhirnya mendorong rupiah ke level terendah sepanjang masa.

Jadi, gambaran pasarnya terbelah. Di satu papan, IHSG terus melesat dengan dukungan aliran dana dan optimisme tertentu. Di papan lain, rupiah terperosok oleh kekhawatiran politik dan fundamental. Sebuah kontras yang tajam di tengah dinamika ekonomi dalam negeri.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar