“Manajemen perseroan berhak melakukan penyesuaian atas penggunaan dana dengan mempertimbangkan kondisi dan faktor-faktor lain yang dianggap layak,”
Begitu penjelasan manajemen BNBR dalam prospektus tersebut. Jadi, rincian penggunaan dananya nanti masih bisa disesuaikan dengan situasi saat rights issue benar-benar digelar. Tujuannya jelas, untuk mendapatkan pengelolaan modal yang paling optimal.
Di sisi lain, rencana ini tentu membawa konsekuensi. Pemegang saham yang memilih untuk tidak ikut serta dalam rights issue berpotensi mengalami dilusi. Persentase kepemilikannya bisa menyusut, bahkan hingga maksimal sepertiga atau 33,33 persen.
Semua rencana ini tentu belum final. Perseroan masih harus mengantongi lampu hijau dari para pemegang saham. Rencananya, persetujuan akan diminta dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 27 Februari 2026 mendatang.
Artikel Terkait
Perusahaan Singapura Incar Saham Pengendali Produsen Sprei Soraya
PLTM Tomoni Siap Pacu Pendapatan ARKO Rp140 Miliar pada 2026
Industri Guncang, Pasokan Gas Murah Tersendat di Jantung Produksi
Menteri Keuangan: IHSG Tembus Rekor, Rupiah Akan Menyusul