Yang terbaru, pasangan ditawari sekitar 500 dolar AS per tahun untuk setiap anak yang lahir mulai 1 Januari 2025, hingga si anak berusia tiga tahun. Di sisi lain, ada kebijakan yang kontras: mulai tahun ini, pemerintah memberlakukan pajak pertambahan nilai (PPN) 13 persen untuk obat dan alat kontrasepsi, termasuk pil pasca berhubungan dan kondom.
Namun begitu, apakah insentif itu efektif?
He Yafu, seorang ahli demografi independen, punya pandangan pesimistis.
“Subsidi dari pemerintah terlalu kecil untuk mendongkrak angka kelahiran secara signifikan,” katanya.
Ia menilai, penurunan ini lebih terkait dengan fenomena sosial yang mendasar: generasi muda yang enggan menikah, ditambah jumlah perempuan usia subur yang terus merosot. Dalam lima tahun terakhir saja, kelompok itu berkurang sekitar 16 juta jiwa.
Menyusutnya calon ibu ini, tak bisa dipungkiri, adalah warisan pahit dari kebijakan satu anak dulu. Kebijakan yang perlahan menggerus fondasi demografis China bertahun-tahun, sebelum akhirnya dihapus pada 2015. Warisan itu kini datang menagih.
Artikel Terkait
IHSG Menguat 1,76%, Saham KOKA dan RODA Pacu Kenaikan
IHSG Bangkit 1,76% ke 7.710, Meski Nilai Transaksi Menyusut Tajam
BUMI Pertahankan Produksi Batu Bara 73-75 Juta Ton pada 2025
MNC Tourism Pacu Pengembangan KEK Lido City Seluas 3.000 Hektare