"Tapi kalau di libur ini saya rasa lebih kepada daya beli agak sedikit melemah sekarang," jelasnya.
"Orang juga baru selesai liburan di akhir tahun, jadi enggak terlalu banyak juga mereka akan bergerak. Ini kan dempet-dempet, sebentar lagi Imlek, jadi banyak pilihan libur lah," tambah Yusran.
Di sisi lain, ada faktor besar yang bikin orang menunda: Lebaran. Momen Idul Fitri yang jatuh pada Maret mendatang sepertinya jadi prioritas utama banyak keluarga. Daripada keluar duit sekarang, mereka memilih menabung untuk liburan yang lebih besar nanti.
"Jadi banyak mereka menyimpan untuk libur lebaran nanti, karena sebentar lagi, 2 bulan lagi lah ya. Itu mungkin salah satu faktor juga jadi mereka lebih bagus mereka simpan buat nanti," tuturnya.
Dengan semua pertimbangan itu, Yusran memprediksi puncak okupansi hotel baru akan benar-benar terasa nanti. Saat Lebaran tiba, atau ketika libur semester sekolah berlangsung. Puncaknya tentu saja di musim Natal dan tahun baru. Saat itulah, industri perhotelan bisa kembali menarik napas lega.
Artikel Terkait
Pemerintah Diimbai Siapkan Ruang Fiskal Lebih Besar Antisipasi Dampak Krisis Global
IHSG Bangkit 1,80% Usai Anjlok, Analis Ingatkan Masih Technical Rebound
IHSG Melonjak 2,14% di Awal Perdagangan, Seluruh Sektor Berbalik Hijau
Reli Saham Asia Dipicu Sinyal Redupnya Ketegangan AS-Iran