Perusahaan minyak dan gas, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), baru saja mengumumkan laporannya. Ternyata, dana segar yang mereka dapatkan dari penawaran saham perdana alias IPO sudah habis terpakai semua per akhir tahun lalu. Nilainya tak main-main, mencapai Rp212,23 miliar.
Sebenarnya, total dana yang berhasil dihimpun RATU dari aksi korporasi itu lebih besar, yakni Rp218,56 miliar. Namun, setelah dipotong biaya-biaya emisi sekitar Rp6,32 miliar, yang tersisa untuk perusahaan ya angka tadi. Laporan keterbukaan informasi yang dirilis Rabu (14/1/2026) itu punya cerita menarik soal kemana uang itu mengalir.
Rupanya, sebagian besar dananya dipakai untuk menguatkan anak perusahaannya. Caranya? Dengan memberikan pinjaman cash call.
PT Raharja Energi Tanjung Jabung mendapat bagian terbesar, yaitu suntikan dana sebesar Rp157,3 miliar. Sementara itu, PT Petrogas Jatim Utama Cendana menerima alokasi sebesar Rp34,9 miliar.
Di sisi lain, RATU juga menyisihkan dana yang tidak sedikit untuk kebutuhan operasionalnya sendiri, yaitu sekitar Rp19,9 miliar. Jadi, meski fokusnya ke penguatan anak usaha, operasional induknya tetap diperhatikan.
Kalau kita mundur sedikit, saham RATU ini mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 8 Januari 2025. Respon pasar saat itu cukup hangat. Di hari pertama perdagangan, harganya langsung melesat dan ditutup di level Rp1.435 per saham. Angka itu menunjukkan kenaikan yang cukup tajam, 24,78 persen, dari harga penawaran awalnya yang Rp1.150.
Nah, yang perlu dicatat, total pendanaan yang berhasil dikumpulkan RATU tidak hanya dari IPO. Ada juga hasil dari divestasi saham. Jika dijumlahkan, totalnya mencapai Rp624,46 miliar. Rinciannya, Rp218,56 miliar dari IPO dan Rp405,90 miliar dari divestasi.
Dengan modal sebesar itu, RATU punya rencana ekspansi yang cukup ambisius. Mereka sudah menyiapkan tujuh target akuisisi untuk tiga tahun ke depan. Nilainya beragam, mulai dari 10 juta dolar AS hingga 150 juta dolar AS per akuisisi. Dua akuisisi pertama ditargetkan selesai antara kuartal IV-2025 sampai semester pertama 2026.
Untuk jangka menengah, sekitar 3-5 tahun ke depan, strateginya agak berbeda. Perusahaan ini berencana masuk ke investasi operasional dengan mengambil alih Kontrak Kerja Sama (PSC) yang skalanya lebih kecil. Tujuannya jelas: membangun kemampuan operasional dari dalam.
Lalu, bagaimana dengan rencana jangka panjangnya? Dalam kurun 6-10 tahun, target RATU lebih besar lagi. Mereka ingin berekspansi ke PSC berskala besar di dalam negeri. Tentu saja, aset yang diprioritaskan adalah yang menawarkan imbal hasil (IRR) di atas 10 persen. Struktur pendanaannya pun ingin tetap konservatif, dengan rasio utang terhadap ekuitas sekitar 80:20.
(DESI ANGRIANI)
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Turun Rp44.000 per Gram di Awal Pekan
IHSG Berbalik Melemah Usai Menguat Tipis di Awal Perdagangan
Analis Proyeksikan IHSG Terjebak Rentang Sempit Pekan Ini, Volatilitas Tinggi Dipicu Geopolitik dan Kebijakan BI
Harga Minyak Melonjak 8% Usai AS Sita Kapal Iran di Selat Hormuz