Apple Beri Bonus Saham Ratusan Ribu Dolar untuk Pertahankan Desainer dari Incaran OpenAI

- Senin, 20 April 2026 | 10:15 WIB
Apple Beri Bonus Saham Ratusan Ribu Dolar untuk Pertahankan Desainer dari Incaran OpenAI

JAKARTA – Persaingan di dunia teknologi memang tak pernah sepi. Kali ini, Apple dikabarkan sedang berusaha keras mempertahankan para perancang andalannya. Caranya? Dengan membagikan bonus saham yang nilainya fantastis, bisa mencapai ratusan ribu dolar AS. Tujuannya jelas: mencegah mereka hengkang ke perusahaan-perusahaan yang sedang gencar mengembangkan kecerdasan buatan.

Menurut sumber yang mengetahui kebijakan internal, bonus ini diberikan di luar siklus tahunan. Nilainya bervariasi, mulai dari sekitar 200 ribu dolar AS (sekitar Rp 3,4 miliar) hingga 400 ribu dolar AS (Rp 6,8 miliar). Namun, uang itu tidak diberikan sekaligus. Karyawan harus bertahan di Apple selama empat tahun untuk mendapatkan seluruhnya. Sebuah ikatan yang cukup kuat, tentunya.

Namun begitu, langkah ini bukan tanpa alasan. Kekhawatiran manajemen Apple meningkat seiring maraknya perburuan talenta oleh pesaing. Ancaman terbesar datang dari OpenAI, yang baru saja menggandeng mantan kepala desain Apple, Jony Ive. Mereka berencana menciptakan perangkat keras AI generasi baru.

Divisi perangkat keras OpenAI sendiri sebagian dipimpin oleh Tan Tang, mantan eksekutif Apple. Timnya sudah berhasil menarik puluhan insinyur dari Apple, termasuk mereka yang pernah menggarap iPad, Apple Watch, hingga Vision Pro. Ini jelas membuat Apple waspada.

Di sisi lain, beberapa karyawan yang mendapat bonus justru menganggap nominalnya masih kurang. Mereka bilang, tawaran dari startup AI bisa jauh lebih menggiurkan. Ada yang menyebut angka hingga satu juta dolar AS per tahun untuk menarik insinyur- insinyur papan atas Apple. Perbandingannya memang timpang.

Persaingan semakin panas dengan munculnya pemain baru. Salah satunya adalah Hark, startup yang digagas Brett Adcock. Mereka juga aktif merekrut mantan insinyur Apple untuk menciptakan perangkat AI yang konon bisa menggantikan peran iPhone. Situasinya jadi makin rumit.

Sementara itu, di internal Apple, tim desain produk iPhone kini dipimpin Rich Dinh. Mereka bertanggung jawab penuh atas desain teknis dan fungsi produk, bekerja di bawah divisi John Ternus. Tugas mereka berat, apalagi di tengah arus perubahan industri yang begitu cepat.

Perubahan itu, yang didorong oleh ledakan teknologi AI, disebut-sebut sempat membuat Apple kurang siap. Banyak insinyur dan desainer merasa peluang berkembang lebih besar ada di luar. Inilah yang mendorong mereka mencari tantangan baru.

Meski langkah pemberian bonus di luar siklus ini tergolong jarang, Apple bukan kali pertama melakukannya. Sekitar tiga tahun lalu, perusahaan juga mengambil kebijakan serupa saat isu pembajakan karyawan merebak. Mereka juga meningkatkan kompensasi untuk tim pengembang AI internal di tengah persaingan sengit dengan raksasa seperti Meta.

Intinya, kehilangan talenta terbaik dari level staf hingga pimpinan kini jadi tantangan besar bagi Apple. Tantangan yang harus dihadapi perusahaan ini tepat sebelum perayaan 50 tahun berdirinya di bulan April mendatang. Mampukah mereka bertahan di puncak?

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar