Untuk mengejar ketertinggalan, ASRI tak tinggal diam. Mereka terus mendorong penjualan inventori sambil meluncurkan produk baru bertajuk DOMAIN. Sebanyak 10 unit ditawarkan, dengan mengusung lokasi strategis dan aksesibilitas tinggi. Targetnya jelas: menarik minat konsumen dan investor sekaligus.
Yang menarik, bisnis ASRI bukan cuma jual tanah dan bangunan. Mereka membangun ekosistem. Dua township utama, Alam Sutera dan Suvarna Sutera, adalah tulang punggungnya. Di dalam kawasan itu, terus dikembangkan supercluster dan cluster baru untuk memperkuat ekosistem sekaligus mendongkrak penjualan.
Pendapatan berulang juga datang dari mana-mana. Mall @Alam Sutera, gedung perkantoran, rumah sakit, hotel, dan area komersial lain turut menyumbang. Bahkan, jauh di Bali, ASRI mengelola destinasi wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang mampu menarik lebih dari satu juta pengunjung tiap tahun. Jadi, ada aliran pendapatan stabil dari sektor pariwisata juga.
Melihat seluruh proyeksi ini, Phintraco Sekuritas akhirnya memberi rekomendasi Buy untuk saham ASRI. Estimasi nilai wajarnya ditetapkan di Rp268 per saham. Angka itu mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 41% dari harga saat ini. Valuasi ini didasarkan pada metode Discounted Cash Flow (DCF) dengan beberapa asumsi teknis.
Jadi, meski 2025 mungkin masih berat, jalan menuju 2026 tampak mulai terbentang. Semuanya tergantung eksekusi.
Artikel Terkait
Purbaya Tegaskan Dana Transfer ke Daerah untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar Tak Dipotong
Pefindo Pangkas Peringkat PTPP, Prospek Negatif Mengintai
Rencana BUMN Tekstil Baru Dikritik: Jangan Jadi Pesaing Industri yang Sekarat
Dana IPO RATU Rp212 Miliar Ludes, Terbesar Disuntikkan ke Anak Usaha