PNM Ajak Pelajar SLTA Bikin Konten Bermakna, Bukan Cuma Viral

- Jumat, 16 Januari 2026 | 14:12 WIB
PNM Ajak Pelajar SLTA Bikin Konten Bermakna, Bukan Cuma Viral

Di tengah hiruk-pikuk media sosial yang dipenuhi konten visual, ada upaya berbeda yang digagas PNM. Mereka mengajak anak-anak SLTA untuk tidak sekadar mengejar viralitas, tapi menyusun cerita. Cerita tentang sosok paling dekat: ibu.

PT Permodalan Nasional Madani (PNM) kembali menggelar Madani Visual Parade atau MVP. Ini lomba video nasional untuk pelajar SMA/SMK/sederajat. Tema tahun ini, “Ibuku Pahlawanku”, diusung sebagai bentuk apresiasi. Bukan cuma lomba biasa, tapi ajakan untuk memvisualisasikan makna keibuan dengan cara mereka sendiri.

Antusiasme peserta ternyata tinggi banget. Tercatat, seribuan siswa dari 86 sekolah se-Indonesia ikut serta. Menariknya, tahun ini jangkauannya diperluas. Kalau sebelumnya cuma untuk pelajar SMK dengan hadiah puluhan juta, kini terbuka untuk semua jenjang SLTA dengan total hadiah yang mencapai ratusan juta rupiah.

Salah satu peserta mengaku, kompetisi ini memberinya sudut pandang baru.

“Kami biasa bikin video biar estetik atau trending. Tapi lewat MVP, kami diajak bikin konten yang punya makna. Seperti merefleksikan kota kami, atau hubungan dengan ibu. Hal-hal yang selama ini mungkin kami anggap biasa,” ujarnya.

Suasana itu benar-benar terasa dalam winner tour yang diikuti 10 finalis terbaik. Selama tiga hari dua malam di Jakarta, mereka diajak keliling kota dan mengikuti Sashiko Workshop. Namun begitu, puncaknya adalah talkshow bertajuk “Refleksi Kota & Asa Madani”.

Di sana, mereka berdiskusi dengan Iqbal Raisid (Iqbalbalqi), produser Vindes, dan Aco Tenriyagelli (acotenri), sutradara film “Suka Duka Tawa untuk Tujuan”. Dialog itu mendorong para finalis membangun perspektif segar dalam berkarya.

Sekretaris Perusahaan PNM, Lalu Dodot Patria, menegaskan bahwa MVP lebih dari sekadar ajang kompetisi. Ini adalah cara PNM merangkul generasi muda.

“Kreativitas anak SLTA sekarang bukan cuma soal teknik ambil gambar atau edit. Tapi bagaimana mereka memakai konten untuk membaca kondisi sekitar, menangkap realitas, lalu menyampaikannya dengan empati. MVP kami hadirkan sebagai ruang belajar sekaligus berekspresi,” jelas Dodot.

Bagi PNM, konten adalah alat refleksi. Sebuah cara untuk menafsirkan kota, kehidupan, dan harapan sesuai semangat Asa Madani. Institusi ini ingin dikenal sebagai pemberi harapan lewat sentuhan yang “madani”, dan mereka percaya karya-karya muda ini adalah bagian dari proses itu.

“Sentuhan madani itu kami berikan karena kami yakin, dari sini akan lahir generasi muda yang lebih peka dan berdaya,” tutupnya.

Seluruh rangkaian acara, mulai tiket pesawat hingga akomodasi hotel, ditanggung penuh oleh PNM. Langkah ini sekaligus menjadi pengenalan dini. PNM berharap, suatu hari nanti para siswa ini bisa menjadi bagian dari garda terdepan pemberdayaan, misalnya sebagai Account Officer di lapangan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar