Di sana, mereka berdiskusi dengan Iqbal Raisid (Iqbalbalqi), produser Vindes, dan Aco Tenriyagelli (acotenri), sutradara film “Suka Duka Tawa untuk Tujuan”. Dialog itu mendorong para finalis membangun perspektif segar dalam berkarya.
Sekretaris Perusahaan PNM, Lalu Dodot Patria, menegaskan bahwa MVP lebih dari sekadar ajang kompetisi. Ini adalah cara PNM merangkul generasi muda.
“Kreativitas anak SLTA sekarang bukan cuma soal teknik ambil gambar atau edit. Tapi bagaimana mereka memakai konten untuk membaca kondisi sekitar, menangkap realitas, lalu menyampaikannya dengan empati. MVP kami hadirkan sebagai ruang belajar sekaligus berekspresi,” jelas Dodot.
Bagi PNM, konten adalah alat refleksi. Sebuah cara untuk menafsirkan kota, kehidupan, dan harapan sesuai semangat Asa Madani. Institusi ini ingin dikenal sebagai pemberi harapan lewat sentuhan yang “madani”, dan mereka percaya karya-karya muda ini adalah bagian dari proses itu.
“Sentuhan madani itu kami berikan karena kami yakin, dari sini akan lahir generasi muda yang lebih peka dan berdaya,” tutupnya.
Seluruh rangkaian acara, mulai tiket pesawat hingga akomodasi hotel, ditanggung penuh oleh PNM. Langkah ini sekaligus menjadi pengenalan dini. PNM berharap, suatu hari nanti para siswa ini bisa menjadi bagian dari garda terdepan pemberdayaan, misalnya sebagai Account Officer di lapangan.
Artikel Terkait
TRIN Lepas Saham Treasury Rp57 Miliar di Tengah Tekanan Harga
OJK Bongkar Delapan Pelanggaran Serius Dana Syariah Indonesia, Lapor ke Bareskrim
Tiket Promo Whoosh Ludes, Penumpang Diprediksi Tembus 22 Ribu Saat Libur Isra Mikraj
Titik Terang di Ladang Tua: PHR Temukan Cadangan Baru di Blok Rokan