ICP Anjlok ke USD 61,10, Pasar Minyak Dunia Dibayangi Super Glut

- Jumat, 16 Januari 2026 | 13:06 WIB
ICP Anjlok ke USD 61,10, Pasar Minyak Dunia Dibayangi Super Glut

Harga minyak mentah Indonesia, atau Indonesian Crude Price (ICP), kembali mengalami penurunan di penghujung tahun 2025. Pada Desember lalu, harganya ditetapkan di angka USD 61,10 per barel. Angka ini turun USD 1,73 dari bulan sebelumnya yang berada di posisi USD 62,83 per barel.

Keputusan ini resmi tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 10.K/MG.03/MEM.M/2026, yang ditandatangani pada 9 Januari 2025.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Menurut Laode Sulaiman, Dirjen Minyak dan Gas Bumi, pasar sedang diliputi kekhawatiran. Isu "super glut" atau kelebihan pasokan minyak dunia menjadi narasi utama yang menekan harga.

"Penurunan ICP bulan Desember juga disebabkan peningkatan suplai minyak dunia, di mana terdapat peningkatan produksi OPEC bulan November 2025 yang dibandingkan dengan November 2024 atau month over month (mom), menjadi 43,065 ribu bph," jelas Laode dalam keterangan resminya, Jumat (16/1).

Rupanya, ada beberapa faktor yang bersatu menciptakan kondisi oversupply ini. Produksi Amerika Serikat yang tetap tinggi jadi salah satu penyebab. Di sisi lain, OPEC juga meningkatkan produksinya. Bahkan, proyeksi International Energy Agency (IEA) untuk tahun 2026 cukup mengejutkan: surplus diperkirakan mencapai 3,7 hingga 4 juta barel per hari angka yang melebihi stok saat pandemi melanda.

Faktor geopolitik pun turut berperan. Ketegangan antara Rusia dan Ukraina berpotensi mereda, terutama setelah ada penawaran pembatalan aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan NATO. Suasana ini mengurangi premi risiko yang biasanya membumbungi harga minyak. Belum lagi, pejabat Rusia sendiri memproyeksikan kenaikan produksi minyak mereka di tahun 2025 menjadi 10,36 juta barel per hari, dan akan naik lagi di 2026.

Di meja perencanaan, berbagai lembaga juga merevisi proyeksi mereka. OPEC, misalnya, menaikkan proyeksi pertumbuhan produksi dari negara-negara Non-OPEC untuk 2025. Sementara itu, S&P Global justru mengambil langkah sebaliknya dengan memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak untuk tahun yang sama.

Kondisi di kawasan Asia Pasifik, khususnya Cina, juga tidak membantu. Crude throughput mereka anjlok 0,9 persen pada November 2025, mencapai level terendah dalam enam bulan terakhir. Ini tentu saja menambah tekanan pada harga di kawasan yang menjadi pasar raksasa tersebut.

Secara keseluruhan, penurunan ini terlihat jelas pada pergerakan harga minyak mentah utama dunia di bulan Desember. Semua bergerak turun.

  • Dated Brent merosot dari USD 63,65 menjadi USD 62,70 per barel.
  • WTI (Nymex) juga melemah, dari USD 59,48 ke USD 57,87.
  • Brent (ICE) turun cukup signifikan, dari USD 63,66 menjadi USD 61,64.
  • Basket OPEC ikut terimbas, dari USD 64,46 ke USD 61,85.
  • Dan ICP Indonesia, seperti sudah disebutkan, mengikuti tren global ini.

Jadi, penurunan harga Desember itu bukanlah hal yang terjadi secara terisolasi. Ia adalah hasil dari campuran aduk kekhawatiran pasar, lonjakan produksi, dan revisi proyeksi permintaan yang kurang menggembirakan. Sebuah kombinasi yang sulit ditolak.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar